Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ternyata RI Punya Rencana Bikin Pesaing Starlink
    Insight News

    Ternyata RI Punya Rencana Bikin Pesaing Starlink

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa21 Juni 2024Updated:23 Juni 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Starlink telah resmi masuk ke Indonesia sejak pertengahan bulan Mei lalu. Selain untuk komersial, layanan berbasis satelit milik Elon Musk itu juga memberikan layanan pada sejumlah puskesmas di tanah air.

    Di sisi lain, Bakti juga menyediakan akses telekomunikasi untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Lembaga itu juga menyediakan Satelit Satria-1 yang diperuntukkan untuk layanan masyarakat termasuk puskesmas.

    Terkait hal itu, Plt. Direktur Sumber Daya dan Administrasi BAKTI Tri Haryanto mengatakan pihaknya melalui Direktorat Layanan TI untuk Masyarakat dan Pemerintah (LTIMP) melakukan rapat koordinasi dengan Kementerian dan Lembaga. Salah satunya bersamaan dengan Kementerian Kesehatan, yakni untuk menghitung berapa banyak yang membutuhkan layanan dari Bakti.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Beberapa masih membutuhkan layanan dari Bakti. Jadi jumlah berapa belum dapat dari LTIMP,” kata Tri dalam acara Ngopi Bareng di Kementerian Kominfo, Jumat (21/6/2024).

    Dia menjelaskan Bakti memiliki target akan melayani daerah-daerah yang membutuhkan koneksi telekomunikasi. Yakni dengan memaksimalkan satelit Satria-1 yang sudah ada.

    “Starlink masuk ke komersial. Di kita target daerah-daerah titik-titik yang masih membutuhkan. Udah punya Satria maksimalkan yang sudah ada,” jelasnya.

    Terkait penggunaan satelit Low-Earth Orbit untuk Satria-2, dia mengatakan mungkin dilakukan. Karena yang terpenting teknologi yang digunakan, harga dan kualitas yang dihasilkan baik.

    Satelit LEO juga digunakan oleh Starlink. Layanan ini berada pada ketinggian 482 kilometer di atas permukaan dengan keunggulan untuk meningkatkan kecepatan internet dan mengurangi tingkat latensi.

    “Sangat dimungkinkan, pertama teknologi yang efektif dan harga dan kualitas yang baik,” pungkasnya.

    Tri Haryanto menjelaskan Satelit-2 masih menunggu kebijakan dari Menteri Kominfo. Ini juga melihat permintaan dan teknologi yang berkembang sekarang.

    “Menunggu kebijakan Pak Menteri. Intinya dari demand lihat demand yang ada dan teknologi yang berkembang,” kata Tri.

    Dia tak berbicara banyak soal Satria-2 sebab menunggu kebijakan yang ada. Satelit itu diketahui telah mendapatkan greenbook.

    Namun skema pembiayaannya akan berbeda. Satria-1 ini menggunakan KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha), sementara Satria-2 dengan Skema Pinjaman Hibah Luar Negeri.

    “Perlu dikaji kembali,” ungkap dia.



    Techno update Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.