Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Terbaru! Efektivitas Vaksin Covid-19 Lemah di Orang Ini
    Insight News

    Terbaru! Efektivitas Vaksin Covid-19 Lemah di Orang Ini

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa9 Mei 2022Updated:9 Mei 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Sebuah studi terbaru menyebut obesitas dapat menurunkan efektivitas vaksin COVID-19 pada orang yang belum pernah terpapar virus Corona.

    Dalam penelitian di Turki tersebut, dilakukan terhadap orang yang belum pernah terinfeksi SARS-CoV-2 sebelumnya dan telah menerima vaksin Pfizer dan Sinovac

    Berdasarkan hasil yang dipresentasikan minggu ini di Kongres Eropa tentang Obesitas di Maastricht, Belanda, pada pengguna Pfizer ditemukan, orang dengan obesitas parah memiliki tingkat antibodi tiga kali lebih rendah daripada individu dengan berat badan normal.

    Pada penerima Sinovac yang mengalami obesitas parah dan belum pernah terkena Covid-19, tingkat antibodi 27 kali lebih rendah dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal.

    Para peneliti membandingkan respons imun terhadap vaksin pada 124 sukarelawan dengan obesitas parah – yang didefinisikan sebagai indeks massa tubuh 40 atau lebih tinggi – dan 166 individu dengan berat badan normal (BMI kurang dari 25).

    Secara keseluruhan, 130 peserta telah menerima dua dosis vaksin mRNA Pfizer/BioNTech dan 160 telah menerima dua dosis vaksin virus tidak aktif Sinovac.

    “[Vaksin Pfizer/BioNTech] dapat menghasilkan lebih banyak antibodi secara signifikan daripada CoronaVac pada orang dengan obesitas parah,” kata pemimpin studi Volkan Demirhan Yumuk dari Universitas Istanbul, dikutip dari Reuters, Senin (9/5/2022).

    Sementara itu, menurut temuan para peneliti di Afrika Selatan, infeksi dengan varian Omicron dari virus Corona dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan sistem kekebalan untuk melindungi dari varian lain, tetapi hanya pada orang yang telah divaksinasi.

    Pada orang yang tidak divaksinasi, infeksi Omicron hanya memberikan perlindungan “terbatas” terhadap infeksi ulang. Pada 39 pasien yang memiliki infeksi Omicron – termasuk 15 yang telah diimunisasi dengan vaksin dari Pfizer/BioNTech atau Johnson & Johnson – para peneliti mengukur kemampuan sel kekebalan untuk menetralkan tidak hanya Omicron tetapi juga varian sebelumnya.

    Rata-rata 23 hari setelah gejala Omicron dimulai, pasien yang tidak divaksinasi memiliki netralisasi 2,2 kali lipat lebih rendah dari versi pertama varian Omicron dibandingkan dengan orang yang divaksinasi, netralisasi 4,8 kali lipat lebih rendah dari subgaris Omicron kedua, netralisasi Delta 12 kali lipat lebih rendah, 9,6 kali lipat netralisasi varian Beta lebih rendah, dan 17,9 kali lipat netralisasi lebih rendah dari strain SARS-CoV-2 asli.

    [Dexpert.co.id]

    (Intan Rakhmayanti Dewi/dem)


    High Technology Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.