Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Startup Belanja Instan Amblas Rp 446 Triliun, Investor Boncos
    Insight News

    Startup Belanja Instan Amblas Rp 446 Triliun, Investor Boncos

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa18 September 2023Updated:18 September 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Instacart, startup belanja instan atau quick commerce, bakal kehilangan valuasi gede-gedean setelah sahamnya dijual di bursa. Saham Instacart rencananya dijual di harga US$ 30 per lembar dalam penawaran umum perdana saham (IPO), padahal investor startup kelas kakap dulu membeli saham di harga US$ 125 per lembar.

    Dalam prospektus yang dirilis Jumat, Instacart menyatakan berencana menjual saham di rentang harga US$ 28 hingga US$ 30 saat IPO. Di harga saham maksimal, valuasi Instacart adalah US$ 10 miliar (sekitar Rp 154 triliun).

    Valuasi tersebut bakal membuat investor startup yang mengantongi saham Instacart rugi besar. Dalam kesepakatan pendanaan terakhir pada 2021, investor kakap Silicon Valley seperti Sequoia Capital dan Andreessen Horowitz disebut membeli saham Instacart di harga US$ 125 per lembar di valuasi US$ 39 miliar (sekitar Rp 600 triliun).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Artinya, valuasi Instacart bakal amblas sekitar US$ 29 miliar atau sekitar Rp 446 triliun hanya dalam 2 tahun.

    Menurut CNBC International, saham Instacart pada 2021 dijual mahal karena dampak booming ekonomi digital selama pembatasan aktivitas akibat pandemi Covid. Permintaan atas layanan Instacart, yaitu pembelian dan pengantaran produk kebutuhan sehari-hari, lewat online melonjak selama Covid.

    Pada 2021, Instacart sempat mencatatkan kenaikan penjualan tujuh kali lipat yang mendorong pendapatan perusahaan naik tiga kali lipat.

    “Setahun terakhir ini muncul normal baru, cara orang belanja untuk bahan makanan dan produk lain berubah,” kata CFO Instacart Nick Giovani dalam siaran pers pengumuman pendanaan Instacart pada 2021 lalu.

    Kini, Instacart dan para investor harus menerima kenyataan bahwa lonjakan permintaan selama Covid tidak bisa bertahan setelah pandemi usai. Bisnis Instacart dihantam oleh kombinasi antara dampak inflasi ke daya beli konsumen dan kembali dibukanya bisnis offline.

    Instacart masih bisa tumbuh, tetapi jauh lebih lambat dibanding periode pandemi. Pendapatan Instacart hanya naik 15 persen pada kuartal kedua 2023. Lewat pemangkasan biaya operasi yang agresif, Instacart juga berhasil mencatatkan profit.

    Sequoia dan Andreessen kemungkin masih bisa meraih pengembalian investasi dari Instacart karena keduanya telah berinvestasi di ronde pendanaan sebelumnya dengan harga saham yang jauh lebih rendah.

    Sekitar 15 persen saham Instacart dikantongi oleh Sequoia dan hanya sebagian kecil (400 ribu lembar dari total 51,2 juta lembar saham) diperoleh dalam ronde pendanaan pada 2021. Menurut CNBC International, Sequoia telah menanam US$ 300 juta di Instacart. Nilai saham milik Sequoia bisa mencapai US$ 1,5 miliar setelah Instacart melantai di bursa saham.

    (dem/dem)


    High Technology Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.