Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Pengusaha Satelit Beberkan Ketidakadilan Starlink di RI
    Insight News

    Pengusaha Satelit Beberkan Ketidakadilan Starlink di RI

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa29 Mei 2024Updated:29 Mei 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Masuknya Starlink di Indonesia menghadapi beberapa kritikan. Termasuk tudingan mendapatkan perlakuan istimewa dari pemerintah.

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan pertemuan terkait operasional Starlink dan sejumlah isu yang beredar. Hadir dalam pertemuan adalah Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia (ASSI).

    Sekjen ASSI Sigit Jatiputro mengatakan dia memberikan banyak data. Mulai dari harga layanan VSAT pemain lokal dan yang diberikan Starlink. Harga yang ditawarkan Starlink dinilai jauh di bawah yang ditetapkan banyak pemain lokal.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Di mana, harga saat ini memang baik dari sisi harga perangkat maupun harga jual jauh berbeda harganya starlink dengan yang di lokal,” kata Sigit, Rabu (29/5/2024).

    Dia menjelaskan harga layanan dari pemain lokal paling murah senilai Rp 3,5 juta. Sebagai informasi Starlink membanderol Rp 750 ribu untuk paket paling dasar untuk pribadi dan bisnis paling murah senilai Rp 1,1 juta.

    Ini berdampak pada perusahaan lokal dengan harga yang berbeda jauh. Harga rendah membuat pemain yang sudah ada tidak bisa bertumbuh.

    Dia tak menyebut dengan pasti berapa persen penjualan karena Starlink baru resmi beroperasi di tanah air selama 1-2 minggu. Namun dalam waktu singkat, banyak pengguna yang telah beralih menggunakan layanan milik miliarder Elon Musk itu.

    “Terasa pelanggan baru pindah semua ke Starlink. Kalau dibilang berapa persen nanti kita lihat, tapi lebih signifikan banget,” jelasnya.

    Dia juga menyinggung soal hak labuh atau landing rights. Starlink sudah mendapatkannya, namun dia mempertanyakan aturan hak labuh yang didapatkan layanan tersebut.

    “Biasanya landing right di kami diberikan kepada setiap satelit yang baru meluncur. Misalnya, kami meluncurkan satelit GEO, itu satu satelit didaftarkan frekuensi dan prosesnya satu per satu. Nanti masa berakhirnya habis ketika sudah tidak ada satelitnya, atau 10 tahun bisa diperpanjang atau harus mengurus lagi,” ungkap Sigit.

    “Nah, kalau di Starlink, menurut kami ada sedikit perbedaan, yaitu dia mau meluncurkan seminggu 60 atau seminggu 100 nggak pernah [landing right lagi], dia hanya meluncurkan [satelit] landing right hanya sekali, walaupun spek satelitnya berubah. Dia hanya sekali. Kami merasa ada proses-proses yang sebenarnya enggak benar,” imbuhnya.



    Innovation Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.