Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»NeoCov Bukan Varian Baru Covid-19, Ini Sederet Faktanya
    Insight News

    NeoCov Bukan Varian Baru Covid-19, Ini Sederet Faktanya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa2 Februari 2022Updated:3 Februari 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Belum usai penderitaan masyarakat dunia karena Covid-19, ditemukan virus baru bernama Neoromicia Capensis atau NeoCov. Temuan oleh peneliti China ini berasal dari kelelawar Afrika Selatan dan disebut mudah menular dan berisiko kematian.

    Namun kabarnya NeoCov bukanlah bagian dari Covid-19 dan juga bukan varian terbaru. Berikut beberapa fakta soal virus tersebut:

    Bukan Varian Baru Covid-19

    Berasal dari laporan jurnal BioRxiv, peneliti Universitas Wuhan dan Institut Biofisika Akademi Ilmu Pengetahuan China menyebut virus ini bukan varian baru corona. Bahkan NeoCov disebut sudah ada sejak lama.

    NeoCov dikatakan berhubungan dengan wabah MERS-CoV tahun 2012 dan 2015. Dilaporkan juga mirip seperti SARS-CoV-2. “MERS-CoV telah diidentifikasi di beberapa negara di Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan,” kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dikutip dari Independent.

    Sudah Menyebar

    Menurut WHO, 35% pasien terinfeksi MERS-Cov sudah meninggal. Namun ada kemungkinan kasus bawaan terlewat oleh sistem pengawasan yang ada. “Secara total, 27 negara telah melaporkan kasus sejak 2012, menyebabkan 858 kematian yang diketahui karena infeksi dan komplikasi terkait,” kata WHO.

    Virus dilaporkan bisa membunuh 1 dari 3 orang yang terinfeksi. WHO juga menambahkan NeoCov butuh penelitian lebih lanjut.

    Masih Perlu Penelitian Lanjutan

    Pada penelitian terbaru, ilmuwan di Wuhan mengingatkan NeoCov bisa menyebabkan masalah jika ditransfer dari kelelawar ke manusia.

    Virus ini nampaknya tidak dinetralisir oleh antibodi manusia yang ditargetkan untuk virus Covid-19 atau MERS-Cov. Namun hingga sekarang belum ada bukti atau indikasi seberapa menular atau fatalnya NeoCov.

    “Kita perlu melihat lebih banyak data yang mengonfirmasi infeksi pada manusia dan tingkat keparahan yang terkait sebelum menjadi cemas,” kata Profesor Lawrence Young, ahli virus di Universitas Warwick.

    “(Studi) awal menunjukkan bahwa infeksi sel manusia dengan NeoCoV sangat tidak efisien. Apa yang disoroti ini, bagaimanapun, adalah perlunya waspada tentang penyebaran infeksi virus corona dari hewan (terutama kelelawar) ke manusia. Ini adalah pelajaran penting yang perlu kita pelajari yang membutuhkan integrasi yang lebih baik dari penelitian penyakit menular pada manusia dan hewan”.

    [Dexpert.co.id]

    (npb/roy)



    Techno for life Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.