Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Lintasarta Sebut Sejumlah Tantangan Data Center di Indonesia
    Insight News

    Lintasarta Sebut Sejumlah Tantangan Data Center di Indonesia

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa11 September 2024Updated:16 September 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Chief Cloud Officer Lintasarta Gidion Suranta menyebut sejumlah tantangan pusat data atau data center di Indonesia. Menurutnya tantangannya adalah kesiapan dari data center dan power yang mampu menunjang ekosistem tersebut.

    Menurutnya untuk menyerap pasar dari luar masuk ke negeri ini, Indonesia harus bertarung dengan struktur biaya negara lain. Untuk itu, diperlukan model bisnis yang baik dan kolaborasi dalam penggunaan data center di tanah air. 

    “Oleh karena itu, penting untuk berkolaborasi menentukan dan membuat bisnis model yang baik. Kalau kita bisa mendapatkan itu, selain mereka datang tentu use case akan makin beragam,” kata Gidion dalam acara CNBC ‘Data Center Industry Dialogue’, Rabu (11/9/2024).

    Selain itu ada juga tantangan dana, oleh karena itu pengusaha butuh dukungan, seperti misalnya insentif baik pajak seperti tax holiday atau apapun demi membawa kebaikan demi negara ini.

    “Insentif pajak ataupun yang lain akan sangat membantu,” pungkas Gidion.

    Sementara itu, Chairman Indonesia Data Center Provider (IDPRO), Hendra Suryakusuma mengungkapkan saat ini banyak sejumlah tantangan yang harus diatasi di industri data center, salah satunya terkait pemenuhan sumber atau suplai power, khususnya dari energi bersih.

    Hendra mengatakan, secara fundamental bisnis data center membutuhkan power atau kebutuhan energi listrik hingga 24 MW. Angka ini merupakan angka yang besar, sehingga dibutuhkan sumber energi baru terbarukan.

    “Kita butuh disupplai listrik yang renewable, banyak yang sudah minta. Energi mix di Indonesia masih coal, makanya kami beli sertifikat,” kata Hendra dalam kesempatan yang sama.

    Lebih lanjut kata Hendra tantangan lain di industri data center yakni terkait SDM. Menurutnya, saat ini banyak anggota IDPRO saling bajak membajak pegawai akibat kurangnya tenaga ahli.

    “Selain itu bagaimana akselerasi di bidang ini dan juga terkait dengan birokrasi yang dibikin lebih cepat. Konseptual butuh 1-2 bulan, klo PBG butuh waktu dan dana yang banyak,” jelasnya.

    Seperti diketahui, investasi data center di Indonesia saat ini jauh tertinggal dari Malaysia. Perusahaan teknologi seperti TikTok dan Google memilih menempatkan data di Malaysia meskipun Indonesia adalah pasar utama mereka. Jika dibandingkan dengan Malaysia, sepanjang 2019 sampai 2024 investasi yang sudah masuk hampir US$ 25 miliar atau sekitar Rp 400 triliun. Di sisi lain, investasi data center di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir hanya sekitar Rp 10 triliun.

    (rah/rah)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Bos Data Center Ungkap Prospek & Tantangan Bisnis Pusat Data RI




    Next Article



    RI Belajar dari India Hingga Vietnam Soal Tarik Investasi Data Center



    Insight for you Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.