Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Kalah dari Laos & Kamboja, Ada Apa dengan Internet Indonesia?
    Insight News

    Kalah dari Laos & Kamboja, Ada Apa dengan Internet Indonesia?

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa8 Februari 2022Updated:8 Februari 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Dalam laporan Speedtest Global Index Desember 2021, kecepatan internet Indonesia ternyata di bawah negara-negara Asia Tenggara. Indonesia berada di urutan ke 115 dengan kecepatan 22,41 Mbps, lebih lambat dari Laos (32,04 Mbps) dan Kamboja (26,85 Mbps).

    Ian Yosef, Pengamat Telekomunikasi, agak sulit untuk Indonesia lebih cepat internetnya dibandingkan negara tersebut. Sebab Indonesia merupakan negara kepulauan jadi butuh banyak optik kabel laut, radio link dan Vsat.

    “Susah, Indonesia negara kepulauan, yang lain daratan. Jadi untuk Indonesia akan banyak optik kabel laut, radio link dan vsat. Radio link jelas lebih lambat dibanding optik (belum semua terjangkau), apalagi dengan VSAT orde nya kebanyakan di bawah 4 Mbps, malah sekitar 1 Mbps yang akan dibagi ke beberapa pelanggan,” jelas Ian kepada CNBC Indonesia, Selasa (8/2/2022).

    Dia mengatakan Vsat merupakan solusi paling cepat dan murah saat ini untuk daerah 3T. Sebab wilayah itu memiliki kesulitan dari segi geografis.

    Selain itu juga ada tantangan membangun backbone optik hingga last mile. Yakni membutuhkan waktu dan dana yang sangat besar, mengingat jumlah pulau di tanah air mencapai ribuan.

    “Jadi memang satelit dengan Vsat adalah alternatif tercepat dan murah untuk mengatasi kesenjangan digital untuk Indonesia, walau lebih lambat tetapi telah dirasakan oleh masyarakat,” kata dia.

    Lalu bisakah internet Indonesia lebih ngebut lagi? Ian mengatakan hal itu bisa terjadi. Jika dari backbone hingga lastmile menggunakan seluruhnya optik.

    “Bisa, jika palapa ring sudah menyambung dan memiliki interkoneksi ke IIX, lalu lastmile menggunakan optik, atau dengan kata lain dari backbone hingga last mile adalah all optic,” ujar Ian.

    Sebagai informasi, dalam laporan Speedtest tersebut hanya Singapura yang bisa menembus kecepatan di atas 100 Mbps. Dengan kecepatan 108,37 Mbps dan negara tersebut berada di urutan 21.

    Berikut daftar kecepatan internet di Asia Tenggara dari laporan Speedtest bulan Desember 2021:

    • Singapura (peringkat 21) : 108,37Mbps
    • Brunei (peringkat 32) : 87,29 Mbps
    • Thailand (peringkat 40) : 67,99 Mbps
    • Vietnam (peringkat 59) : 47,76 Mbps
    • Filipina (peringkat 65) : 42,22 Mbps
    • Malaysia (peringkat 71) : 37,30 Mbps
    • Laos (peringkat 86) : 32,04 Mbps
    • Kamboja (peringkat 102) : 26,85 Mbps
    • Indonesia (peringkat 115) : 22,41 Mbps.

    [Dexpert.co.id]

    (npb/roy)



    Techno update Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.