Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Hujan Meteor Leonid Terjadi di RI, Begini Cara Melihatnya
    Insight News

    Hujan Meteor Leonid Terjadi di RI, Begini Cara Melihatnya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa18 November 2022Updated:18 November 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Masyarakat Indonesia masih bisa melihat hujan meteor Leonid hingga 30 November 2022 mendatang. Intensitasnya bervariatif antara 10-15 meteor saat di zenit pada Jumat hari ini [8/11/2022].

    “Ini adalah hujan meteor dengan titik radian [titik asal kemunculan meteor] terletak di konstelasi Leo. Ia aktif sejak 6 hingga 30 November, berintensitas variatif antara 10-15 meteor/jam saat di zenit pada 18 November, dapat disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur laut setelah tengah malam [18 November] hingga meredup di arah utara sebelum Matahari terbit,” jelas BRIN dalam laman resmi Edusainsa BRIN, dikutip Jumat (18/11/2022).

    Intensitas hujan di kota Sabang dan wilayah selintang antara 9-14 meteor/jam. Sedangkan intensitas di Rote Ndao dan selintang adalah 7-11 meteor/jam.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Menurut BRIN, perbedaan itu terjadi karena ketinggian titik radian saat sebelum Matahari terbit adalah 53-70 derajat di atas ufuk utara.

    Hujan meteor Leonid berasal dari sisa debu komet Tempel-Tuttle. BRIN menuliskan Kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 255.600 km/jam.

    Laman Space menjelaskan saat Bumi melewati awan puing itu pada bulan November, sisa dari Komet Tempel-Tuttle memasuki atmosfer dengan kecepatan 257 kilometer per jam. Pada akhirnya menciptakan garis-garis cahaya dan sesekali terlihat bola api.

    Setiap 33 tahun atau lebih, puing tersebut akan menciptakan fenomena badai meteor. Artinya ada 1.000 meteor per jam selama fenomena berlangsung.

    Sedangkan untuk fenomena tahun ini tidak menjadi badai meteor. Badai pernah terjadi tahun 1833, yang disebut Space bahkan lebih spektakuler dengan hujan puing-puing dari luar angkasa lewat atmosfer dengan 100 ribu meteor per jam.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Bekas Roket Raksasa Cz-5B Milik China Jatuh di Dekat RI

    (npb/roy)


    Techno update Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.