Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Eks Pegawai Twitter Soal Tweet Trump: Banyak Orang Bisa Tewas
    Insight News

    Eks Pegawai Twitter Soal Tweet Trump: Banyak Orang Bisa Tewas

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa13 Juli 2022Updated:13 Juli 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Mantan karyawan Twitter mengungkapkan peran media sosial tersebut dalam aksi pendukung Trump yang menyerbu Capitol Hill pada 6 Januari 2021. Fakta soal Twitter terungkap dalam rapat dengar pendapat di depan komite terpilih DPR Amerika Serikat.

    Seorang karyawan Twitter mengaku bahwa ia berusaha memperingatkan sebanyak mungkin orang bahwa ada potensi aksi kekerasan pada 6 Januari 2021.




    Foto: AP/Manuel Balce Ceneta

    Semuanya berawal dari tweet mantan Presiden AS Donald Trump pada 19 Desember, yang berjanji akan ada protes “liar” di Washington D.C. pada 6 Januari. Kicauan tersebut, menurut anggota komite DPR AS, “menjadi panggilan untuk aksi, dan untuk beberapa orang panggilan angkat senjata,” ke pendukung Trump.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Pada 5 Januari, menurut mantan karyawan Twitter, sangat jelas bahwa aksi protes akan berujung kepada kekerasan, tetapi tidak ada satu pun langkah intervensi yang diambil. Identitas mantan karyawan Twitter yang memberikan kesaksian dirahasiakan.

    Anggota DPR AS, Jamie Raskin, mengatakan bahwa sang mantan karyawan berasal dari “tim yang bertanggung jawab atas kebijakan moderasi konten dan platform.

    “Saya telah memohon, mengantisipasi, berusaha menjelaskan realitas bahwa, jika tidak ada intervensi terhadap apa yang saya lihat, orang-orang bisa tewas,” kata mantan pegawai Twitter. “Pada 5 Januari, saya sadar tidak akan ada intervensi apapun.”

    Ia juga mengungkapkan bahwa Twitter mempertimbangkan untuk mengubah aturan platformnya pada 2020, setelah Trum berkomentar dan meminta Proud Boys (organisasi militan garis keras AS yang dituding rasis) untuk “tahan diri dan bersiap” saat debat presidensial. Namun, akhirnya Twitter memutuskan mempertahankan kebijakan. 

    Menurut mantan karyawan Twitter, pengguna lain tidak akan diberikan kelonggaran seperti Trump. “Saya percaya Twitter menikmati bahwa mereka adalah platform favorit Trump, dan senang dengan kekuatan itu di dalam ekosistem media sosial.”

    Dalam pernyataan kepada Engadget, VP of Public Policy di Twitter, Jessica Herrera-Flanigan mengatakan bahwa Twitter melihat peran mereka dalam rangkaian peristiwa menjelang 6 Januari dengan “mata yang jernih”.

    “Meskipun kami terus mengkaji cara untuk memperbaiki diri, faktanya adalah kami mengambil langkah luar biasa dan telah mengerahkan banyak sumber daya untuk merespons ancaman di sekitar pelaksanaan pemilu AS 2020,” katanya.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Truth Social Tersedia di App Store, Trump Kembali ke Medsos

    (dem)


    Smart your life Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.