Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Bankir Ungkap Alasan Bitcoin Cs ‘Lupa’ Diatur
    Insight News

    Bankir Ungkap Alasan Bitcoin Cs ‘Lupa’ Diatur

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa3 April 2023Updated:3 April 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Regulator di seluruh dunia akhirnya sadar pentingnya membuat aturan soal mata uang kripto. Dalam panel diskusi di acara ‘Citi Digital Money Symposium’ yang digelar di London baru-baru ini, hal tersebut sempat jadi bahasan utama.

    Ternyata, regulasi mata uang kripto di beberapa negara besar seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Eropa, sengaja telat dibuat. Hal ini disampaikan Head of Digital Policy dari Barclays, Nicole Sandler.

    “Beberapa pembuat kebijakan membiarkan pasar melakukan apa yang mereka mau terhadap kripto tanpa ada aturan jelas. Hal ini kara para pembuat kebijakan berpikir fenomena kripto bakal berakhir,” kata dia.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Kenyataannya, mata uang kripto terus berkembang luas,” ia menambahkan, dikutip dari Decrypt, Senin (3/4/2023).

    Berdasarkan pengalamannya pada 2016, ketika ia membahas kerangka hukum aset digital bersama Komisi Eropa, Sandler mengatakan pasar kripto belum sematang sekarang.

    Karena itu, para regulator belum serius membahas soal pentingnya dibuat regulasi terkait aset digital tersebut. Kini, ketika kripto telah berkembang pesat, sepertinya regulasinya butuh waktu lama untuk matang.

    “Sekarang mereka sadar harus membuat regulasi soal kripto. Namun, untuk membuat kebijakan, dibutuhkan waktu yang lama dari awal hingga akhir,” ia menuturkan.

    Akibat Kripto Tak Diatur

    Berkat kelalaian para pembuat kebijakan, pasar kripto menjadi tak terkontrol. Dampaknya pun besar, misalnya seperti kolapsnya FTX pada November lalu.

    Kendati begitu, menurut Sandler, kejadian FTX mungkin tak akan benar-benar hilang meski ada kebijakan yang mengaturnya. Namun, setidaknya aturan bisa mencegah dampaknya yang sangat besar.

    Pasalnya, FTX merupakan kejahatan yang terstruktur oleh beberapa oknum kriminal di dalamnya, termasuk sang pendiri Sam Bankman-Fried.

    Dalam kasus FTX, Komisi Pertukaran Aset Digital (SEC) mengambil tindakan cepat dengan menindak sang pendiri. Selanjutnya, pada Maret lalu, SEC juga menindak perusahaan kripto lain yang dinilai melenceng, yakni Coinbase.

    Namun, di tengah tegasnya SEC, ternyata ada pula masalah di dalamnya. Menurut sumber yang dirahasiakan identitasnya, komunitas kripto tak suka dengan kepemimpinan SEC.

    Hal tersebut diakui panelis dalam acara, Ijeoma Okoli. “Banyak orang tak suka dengan Gary Gensler yang merupakan pimpinan SEC,” ujarnya.

    “Namun, jika dilihat kembali sekitar 10 tahun lalu pasca krisis keuangan, Gensler adalah orang yang memimpin CFTC (Komisi Perdagangan Komoditas Berjangka AS),” ia menjelaskan.

    “Kala itu, sebagian pesar pelaku sektor derivatif membencinya. Jadi, ini bukan soal kripto. Ini karena pembawaannya yang tegas,” ia memungkasi.




    High Technology Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.