Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Badai Matahari Bombardir Bumi, Radiasi Jebol Atmosfer
    Insight News

    Badai Matahari Bombardir Bumi, Radiasi Jebol Atmosfer

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa28 Maret 2024Updated:29 Maret 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Baru-baru ini, badai Matahari menghantam Bumi secara terus menerus. Kejadian tersebut ternyata sempat melemahkan atmosfer yang melindungi manusia.

    Kejadian itu terjadi pada 23 Maret 2024. Kala itu, Matahari memuntahkan jilatan api kelas X yang sangat kuat yakni mencapai 1,1 Magnitudo.

    Fenomena tersebut terdiri dari dua ledakan simultan dari dua bintik Matahari yakni AR3614 dan AR3615. Kedua ledakan itu menghasilkan awan besar plasma dan radiasi ke luar angkasa atau disebut sebagai Coronal Mass Ejection (CME).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Live Science menuliskan kejadian itu mengirimkan gelombang kejut ke atmosfer. Pada akhirnya berdampak pada radiasi Matahari masuk lebih dalam ke dalam atmosfer.

    Salah satu dampaknya adalah aurora yang terjadi di Australia dan Selandia Baru. Spaceweather juga melaporkan badai Matahari juga membuat fenomena seperti aurora Steve atau strong thermal emission velocity enhancement (peningkatan kecepatan emisi termal kuat).

    Bukan hanya aurora, peningkatan frekuensi ledakan juga bisa berdampak pada hal lain di Bumi. Mulai dari infrastruktur di darat, jatuhnya satelit ke Bumi, dan atmosfer yang memanas di bagian atas.

    Ledakan besar yang terjadi juga membuat beberapa ahli angkat bicara. Menurut mereka fase ini terjadi satu tahun lebih awal dari perkiraan.

    Gerhana Matahari Total pada 8 April 2024 mendatang akan memperlihatkan kondisi tersebut. Atmosfer luar Matahari dapat terlihat berapi-api saat Bulan menutupi permukaannya.

    Live Science menuliskan kemungkinan corona akan sangat indah saat fase total nanti. Jilatan api Matahari juga dapat terlihat selama gerhana nanti.



    Hitech for better life Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.