Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Awas! Virus Ransomware Hacker Sudah Rampok Korban Rp 8,3 T
    Insight News

    Awas! Virus Ransomware Hacker Sudah Rampok Korban Rp 8,3 T

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa18 Oktober 2021Updated:19 Oktober 2021Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    hacker as lumpuhkan internet korut
    Keyboard hacker AS
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Amerika Serikat (AS) mencatatkan pengeluaran luar biasa dalam membayar kejahatan ransomware. Selama paruh pertama 2021, berdasarkan data terbaru pada 15 Oktober 2021 AS membayar hingga US$590 juta atau Rp 8,3 triliun.

    Jumlah itu ternyata jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Laporan Departemen Keuangan AS mencatat ada lonjakan 42% dibandingkan yang dilaporkan sepanjang 2020.

    “Jika tren berlanjut, (laporan) yang diajukan 2021 memproyeksikan tahun 2021 memiliki nilai transaksi terkait ransomware lebih tinggi dari (laporan) yang diajukan dalam total 10 tahun sebelumnya,” ungkap Departemen Keuangan, dikutip AFP, Senin (18/10/2021).

    Terdapat cara kejahatan terkait malware di AS. Yakni membobol jaringan entitas dan mengenkripsi datanya, lalu menuntut uang tebusan yang biasanya menggunakan cryptocurrency.

    Washington mulai berusaha keras melakukan penindakan dengan adanya peningkatan tajam dalam serangan. Termasuk menjatuhkan sanksi pertama pada bursa online dimana operator gelap diduga melakukan penukaran cryptocurrency dengan yang tunai.

    Beberapa kasus serangan malware adalah pipa minyak utama di AS, perusahaan pengepakan daging, serta sistem email Microsoft Exchange.

    Departemen Keuangan menambahkan tren kenaikan itu bisa mencerminkan peningkatan pada seluruh insiden termasuk ransomware. “Tren ini berpotensi mencerminkan peningkatan prevalensi keseluruhan insiden mengenai ransomware termasuk peningkatan deteksi dan pelaporan,” kata lembaga itu.

    Sementara itu, AS baru saja menggelar acara untuk memerangi virus ransomware secara internasional. Acara tersebut mengundang perwakilan 30 negara, namun tak ada nama Rusia dalam undangan tersebut.

    Rusia memang kerap dituding ada di balik serangan siber. Beberapa negara yang diikuti adalah Inggris, Australia, India, Jepang, Perancis, Jerman, Korea Selatan, Uni Eropa, Israel, Kenya dan Mexico.

    Seorang sumber tak menjelaskan mengapa Rusia tak diajak dalam acara itu. Namun dia menambahkan ada sejumlah alasan Rusia tak diundang. Pejabat tersebut juga mengatakan membangun pemerintah AS komunikasi dalam kanal terpisah dengan pemerintah Rusia.

    [Dexpert.co.id]

    (Update dari:CNBC.com )



    Mind your business Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.