Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Awas Ada Penipuan Gaya Baru di Instagram dan Facebook, Begini Modusnya
    Insight News

    Awas Ada Penipuan Gaya Baru di Instagram dan Facebook, Begini Modusnya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa9 Februari 2024Updated:9 Februari 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Semakin canggih teknologi yang ada saat ini, Deepfake atau konten buatan AI yang sulit dibedakan dari foto, video, dan suara asli pun mulai terdeteksi di Instagram, Facebook, dan Threads. Oleh sebab itu, Meta mengambil langkah dengan cara memberikan label dan tanda khusus.

    Presiden Global Affairs Meta Nick Clegg menyatakan, kebijakan untuk memantau dan memberikan label di konten hasil karya AI akan diterapkan, untuk konten yang dibuat menggunakan platform Meta dan platform di luar Meta.

    Konten hasil karya AI bisa dikenali dari “cap” tak terlihat yang tertanam di file gambar. Jika cap tersebut terdeteksi, Meta akan memberikan label khusus di konten yang unggah di Facebook, Instagram, dan Threads.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Saat ini, kebijakan dan fitur pemantau AI sudah diterapkan untuk konten yang dibuat menggunakan teknologi Meta. Dalam beberapa bulan ke depan, sistem yang sama akan diterapkan untuk konten buatan platform milik OpenAI, Midjourney, Shutterstock, dan Google.

    Menurut Reuters, langkah Meta menunjukkan arah kebijakan platform media sosial dan internet sebagai mitigasi atas dampak negatif dari peredaran konten palsu hasil rekayasa AI. Cara serupa telah diterapkan dalam 10 tahun terakhir untuk menghapus konten terlarang seperti konten yang menggambarkan kekerasan dan eksploitasi terhadap anak.

    Clegg yakin sistem milik Meta bisa mengenali setiap gambar buatan AI yang diunggah di platformnya. Namun, perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg tersebut masih menyempurnakan sistem serupa untuk mengenali video dan audio buatan AI.

    “Meskipun teknologi ini masih baru, terutama untuk audio dan video, harapan kami ini bisa menciptakan momentum dan insentif yang akan diikuti oleh pelaku industri lain,” katanya kepada Reuters.

    Sampai sistem identifikasi sempurna, Meta akan meminta pengguna Instagram dan Facebook untuk memberikan label di konten audio dan video hasil rekayasa. Pelanggar atas kebijakan ini akan dikenai penalti.

    Satu konten karya AI yang belum bisa diidentifikasi dengan teknologi adalah teks buatan AI, seperti yang dihasilkan oleh ChatGPT. “Itu sudah lewat [that ship has sailed],” kata Clegg.

    Meta juga bungkam soal rencana mereka untuk konten buatan AI yang tersebar di WhatsApp.

    Penipuan deepfake

    Konten deepfake kini juga mulai digunakan untuk penipuan online. Seorang pekerja keuangan di sebuah perusahaan multinasional ditipu untuk membayar US$25 juta (Rp 392,97 miliar) kepada penipu menggunakan teknologi deepfake.

    Menurut polisi Hong Kong, penipu itu menyamar menggunakan deepfake sebagai kepala keuangan perusahaan dalam panggilan konferensi video.

    Korban ditipu dengan disuruh untuk menghadiri panggilan video yang disebut akan dihadiri oleh beberapa beberapa anggota staf lainnya. Namun semuanya sebenarnya adalah rekreasi palsu, kata polisi Hong Kong, dikutip dari CNN International, Senin (5/2/2024).

    “(Dalam) konferensi video yang dihadiri banyak orang, ternyata semua orang yang [dia lihat] adalah palsu,” kata pengawas senior Baron Chan Shun-ching kepada stasiun penyiaran publik kota RTHK.

    Chan mengatakan pekerja tersebut menjadi curiga setelah dia menerima pesan yang konon berasal dari kepala keuangan perusahaan yang berbasis di Inggris. Awalnya, pekerja tersebut mencurigai itu adalah email phishing, karena berisi permintaan pelaksanaan transaksi rahasia.

    Namun, pekerja tersebut mengesampingkan keraguan awalnya setelah panggilan video tersebut. Sebab, kata Chan, orang lain yang hadir terlihat dan terdengar seperti rekan kerja yang dia kenal.

    Karenanya, pekerja tersebut setuju untuk mengirimkan total US$200 juta dolar Hong Kong atau sekitar Rp392,97 miliar.

    Kasus ini adalah salah satu dari sekian kasus yang melibatkan teknologi deepfake. Pada konferensi pers hari Jumat lalu, polisi Hong Kong mengatakan mereka telah melakukan enam penangkapan sehubungan dengan penipuan tersebut.



    Insight for you Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.