Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»YouTube Tak Berkutik Lawan TikTok, Ini Datanya!
    Insight News

    YouTube Tak Berkutik Lawan TikTok, Ini Datanya!

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa3 Februari 2023Updated:4 Februari 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Alphabet, perusahaan induk Google dan YouTube, merilis pendapatan kuartal keempat 2022. Laporan itu meleset dari perkiraan analis, karena pendapatan iklan YouTube kembali mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

    Secara keseluruhan, Alphabet membukukan pendapatan US$76,05 miliar, naik hanya 1%, dan laba bersih US$13,62 miliar turun 34% dibandingkan US$20,6 miliar pada Q4 2021, atau pendapatan US$1,05 per saham.

    Pendapatan iklan YouTube juga turun sebanyak 7,8 persen, dengan total mencapai US$7,96 miliar pada Q4, dari tahun sebelumnya US$8,63 miliar.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Analis memperkirakan pendapatan iklan YouTube mencapai US$8,2 miliar untuk kuartal terakhir. Total pendapatan dipatok pada US$76,58 miliar, dengan laba per saham US$1,19, menurut Refinitiv.

    “Kuartal kedua berturut-turut YouTube dari pendapatan iklan tahun ke tahun menurun sangat mengkhawatirkan dan menyoroti popularitas layanan saingan seperti TikTok dan Facebook Reels dengan konten bentuk pendek,” kata analis PP Foresight Paolo Pescatore, dikutip dari Variety, Jumat (3/2/2023).

    TikTok menjadi salah satu media sosial terpopuler dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, sepanjang 2022, TikTok di-download lebih banyak orang ketimbang Facebook dan Instagram di Indonesia.

    Aplikasi asal China tersebut pun mencatat transaksi online terbesar di luar mobile game. Laporan firma riset data.ai menunjukkan pengguna TikTok global menghabiskan US$6 miliar atau sekitar Rp 92 triliun secara kumulatif di platform tersebut pada Q4 2022.

    Angka tersebut naik dari angka US$5 miliar (Rp 76 triliun) pada Q3 2022. Pertumbuhan ini bisa dibilang lumayan drastis, mengingat pada 2020 lalu, TikTok bahkan tidak masuk dalam jejeran 100 besar aplikasi dengan belanja konsumen (consumer spending) terbesar.

    Dalam kurun waktu 2 tahun, TikTok melalui model bisnisnya yang solid berhasil menanjak tajam. Fitur TikTok Shop menjadi salah satu yang paling populer, termasuk di Indonesia.

    YouTube Berdarah-darah, Tiru TikTok untuk Bertahan

    Alphabet, bersama dengan perusahaan teknologi lainnya, baru-baru ini mengumumkan PHK untuk mengurangi biaya. Raksasa teknologi itu bulan lalu mengatakan telah merumahkan 12.000 karyawan atau sekitar 6% dari tenaga kerja globalnya.

    “Kami sedang dalam perjalanan penting untuk merekayasa ulang struktur biaya kami dengan cara yang tahan lama dan untuk membangun bisnis yang berkelanjutan secara finansial, bersemangat, dan berkembang di seluruh Alphabet,” kata Sundar Pichai, CEO Alphabet dan Google.

    Dia menggembar-gemborkan “momentum besar” di segmen Google Cloud, langganan YouTube (yang pendapatannya tidak dipecah oleh perusahaan), dan perangkat Google Pixel. Pada bulan November, perusahaan mengatakan langganan YouTube Music dan YouTube Premium melampaui gabungan 80 juta pelanggan yang membayar.

    Pichai mengatakan YouTube Shorts, format video ala TikTok, sekarang rata-rata ditonton lebih dari 50 miliar setiap hari, naik dari 30 miliar yang diumumkan pada awal 2022.

    Konten kreator di YouTube Shorts pada 1 Februari memenuhi syarat untuk berbagi pendapatan iklan, di mana mereka dapat menerima pembagian 45% yang didistribusikan berdasarkan bagian mereka dari total penayangan Shorts, dibandingkan dengan 55% untuk video berdurasi panjang di bawah Program Partner YouTube.

    Pendapatan Google Cloud naik 32%, menjadi US$7,32 miliar pada Q4, sementara segmen tersebut mempersempit kerugian operasionalnya menjadi US$480 juta, dibandingkan kerugian operasional sebesar US$890 juta pada kuartal tahun lalu.

    Mereka mengatakan akan mengeluarkan biaya pesangon karyawan dan biaya terkait antara US$1,9 miliar dan US$2,3 miliar, yang sebagian besar akan diakui pada kuartal pertama tahun 2023. Selain itu, Alphabet memproyeksikan biaya yang berkaitan dengan pengurangan ruang kantor sekitar US$500 juta di Q1.

    CFO Ruth Porat mengatakan perusahaan memiliki “pekerjaan signifikan yang sedang dilakukan untuk meningkatkan semua aspek struktur biaya kami.” Sementara itu, menurut Alphabet, pendapatan Q4 tahun ini secara keseluruhan akan tumbuh 7% tidak termasuk dampak nilai tukar mata uang asing.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Korsel Temui Jalan Buntu Tagih Biaya Jaringan ke Netflix Cs

    (tib)


    Mind your business Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.