Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Viral Langit Yogyakarta ‘Bolong’ di Foto Radar, Ini Kata BMKG
    Inspiring You

    Viral Langit Yogyakarta ‘Bolong’ di Foto Radar, Ini Kata BMKG

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman8 November 2023Updated:8 November 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Beberapa waktu lalu, viral di media sosial sebuah foto citra radar cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan langit Yogyakarta ‘bolong’ sehingga tidak mengalami hujan.

    “Dewa Langit lagi sensi sama Jogja,” gurau salah satu warganet X (sebelumnya Twitter) sambil mengunggah foto citra radar cuaca Yogyakarta, dikutip Rabu (8/11/2023).

    “Langit Jogja siang ini bolong panase poll (panas sekali) pakde,” ujar warganet lainnya.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Mengutip dari unggahan resmi BMKG di Instagram (@infobmkg), foto citra radar yang menunjukkan langit ‘bolong’ di Yogyakarta disebut sebagai fenomena “Cone of Silence.” Menurut BMKG, fenomena itu terjadi akibat radar yang tidak dapat mengamati cuaca secara menyeluruh karena keterbatasan kemampuan alat.

    Umumnya, radar tidak melakukan pemindaian (scanning) hingga elevasi 90 derajat atau tegak lurus sehingga ada daerah yang tidak bisa diamati atau “Cone of Silence” di gambar citra radar cuaca.

    Adapun, scanning radar pada biasanya dilakukan dari elevasi 0,5 hingga 19,5 derajat. Elevasi tersebut hanya mampu mendeteksi awan menengah sampai radius kurang lebih 20 km dari pusat radar. Maka dari itu, bagian dekat radar terlihat ‘bolong’ alias membentuk lingkaran.

    “Dari hasil analisis BMKG, dapat dilihat bahwa pada daerah lingkaran kosong di Yogyakarta terjadi karena radar tidak mengamati sampai tegak lurus ke atas, meskipun terdapat awan menengah yang cukup tebal di atasnya,” papar BMKG, Rabu (8/11/2023).

    “Hal ini sesuai dengan teori “Cone of Silence” sehingga radar hanya dapat mendeteksi awan menengah sampai pada radius kurang lebih 20 km dari pusat radar,” lanjut pemaparan BMKG.

    Sebagai informasi, radar cuaca bekerja dengan melepaskan sinyal pulsa berupa gelombang elektromagnetik dari suatu frekuensi microwave ke atmosfer. Ketika sinyal pulsa mencapai target di atmosfer, sebagian sinyal pulsa akan dipantulkan kembali ke sistem penerima radar.

    “Energi yang diterima oleh radar kemudian dianalisis oleh komputer untuk menentukan lokasi, intensitas hujan, dan informasi lain, seperti arah dan kecepatan angin,” jelas BMKG.

    “Seluruh informasi tersebut kemudian dipetakan di komputer dalam bentuk gambar,” lanjut penjelasan tersebut.


    Artikel Selanjutnya


    BMKG Ramal Kapan Waktu Hujan di DKI Jakarta & Sekitarnya

    (hsy/hsy)


    Innovation Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.