Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Video Jokowi Pidato Mandarin, Pencipta ChatGPT Turun Tangan
    Insight News

    Video Jokowi Pidato Mandarin, Pencipta ChatGPT Turun Tangan

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa19 Januari 2024Updated:21 Januari 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Sejumlah pihak cemas teknologi kecerdasan buatan (AI) yang makin canggih membuat pemilu kacau balau. Di Indonesia, misalnya, teknologi AI yang disebut deepfake pernah digunakan untuk membuat video Presiden Jokowi berbicara Mandarin.

    Perusahaan pencipta ChatGPT, OpenAI, menyadari risiko penggunaan teknologi AI mereka untuk menimbulkan gangguan terhadap proses pemilu di seluruh dunia. Oleh karena itu, mereka mengambil sejumlah langkah agar pemilihan wakil rakyat dan presiden di beberapa negara tetap berjalan lancar.

    Untuk mencegah penggunaan ChatGPT dan teknologi AI lain milik mereka digunakan untuk mengganggu proses pemilu, OpenAI mengerahkan ahli mereka di bidang intelijen, hukum, engineering, hingga kebijakan publik untuk melakukan penyelidikan dan menangani potensi penyalahgunaan AI.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Kami bekerja untuk mengantisipasi dan mencegah penyalahgunaan seperti ‘deepfakes’, upaya penyebaran pengaruh, atau chatbot yang berpura-pura menjadi kandidat di pemilu,” tulis OpenAI di website resmi mereka.

    Deepfake adalah konten video, gambar, atau suara buatan komputer yang sangat menyerupai manusia. Salah satu teknologi yang digunakan untuk membuat deepfake adalah model AI bernama Dall-E buatan OpenAI.

    “Dall-E memiliki batasan sehingga akan menolak permintaan untuk membuat gambar sosok nyata, termasuk kandidat [pemilu],” kata OpenAI.

    Selain itu, OpenAI melarang penggunaan teknologi digunakan untuk membuat aplikasi yang digunakan untuk kampanye politik.

    Oleh karena itu, teknologi AI buatan OpenAI tidak diizinkan untuk digunakan untuk membuat chatbot yang berpura-pura menjadi sosok nyata baik manusia seperti kandidat capres atau institusi seperti badan pemerintah. OpenAI juga melarang teknologi mereka digunakan untuk membuat aplikasi yang mendorong masyarakat tidak mengikuti pemilu, misalnya, memberikan informasi sesat soal proses pemilu atau menyatakan bahwa proses pemilu sia-sia.

    Warga dunia juga dipastikan bisa mengenali konten yang diciptakan oleh teknologi OpenAI agar bisa membedakan antara konten buatan AI dan konten asli. Caranya adalah dengan menanamkan kode rahasia untuk gambar yang diciptakan menggunakan DALL-E.

    Untuk pencegahan tambahan, OpenAI dalam waktu dekat juga akan menyediakan perangkat yang bisa digunakan untuk mendeteksi konten hasil karya DALL-E.

    Terakhir, OpenAI juga menyediakan informasi real-time lewat ChatGPT. Lewat pengembangan ini, pengguna ChatGPT bakal punya akses real-time terhadap berita soal pemilu yang dilengkapi dengan link dan sumber.


    Artikel Selanjutnya


    Video: Ramai Penulis Gugat ChatGPT, Bisa Begal Karya Tulis?

    (dem/dem)


    Insight for you Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.