Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ukraina Terpaksa Daur Ulang Bom Tua, Ini Alasannya
    Insight News

    Ukraina Terpaksa Daur Ulang Bom Tua, Ini Alasannya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa10 April 2023Updated:10 April 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Tentara Ukraina tengah memutar otak untuk mendaur ulang bom tua yang belum meledak. Pasalnya, amunisi perang Ukraina dikabarkan menipis.

    Selain itu, Ukraina juga membatasi rasio penyerangan. Menurut laporan The Washington Post, brigade bermotor di perbatasan timur Ukraina kini cuma menembak dengan senjata artileri sebanyak 1-2 kali, bahkan kadang tidak sama sekali.

    Sebelumnya, pasukan brigade bermotor bisa menembakkan lebih dari 20-30 kali peluru artileri di area tersebut, dikutip Senin (10/4/2023).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dalam upaya berinovasi, tentara Ukraina mengadakan workshop bawah tanah untuk mendaur ulang persenjataan lama yang tidak meledak. Mereka menggunakan printer 3D untuk membuat amunisi kecil yang dapat dijatuhkan dari drone.

    Selain itu, pasukan militer juga lebih berhati-hati dalam menyerang target agar tak menghamburkan persediaan senjata secara cuma-cuma.

    Kendati begitu, secara keseluruhan Ukraina masih menembakkan sekitar 7.700 peluru dalam satu hari, menurut keterangan pejabat yang enggan disebutkan identitasnya. Sebagai perbandingan, Rusia menembakkan 3 kali lipat jumlah peluru tersebut menurut perkiraan.

    Bakhmut Biang Kerok Senjata Ukraina Menipis

    Menipisnya cadangan peralatan perang Ukraina salah satunya disebabkan oleh pertempuran berdarah yang berlangsung lama di Bakhmut. Baik Rusia dan Ukraina menghabiskan banyak persediaan perang selama perang intensif tersebut.

    Ukraina sendiri bergantung pada sekutu Barat untuk mendapatkan lebih banyak pasokan. Selama ini, negara sekutu berebut untuk menyediakan peralatan perang bagi Ukraina.

    Menurut Michael Kofman, direktur Rusia Studies Program di Center for Naval Analysis, upaya negara sekutu menyuplai senjata ke Ukraina untuk menangkal serangan Rusia memang sudah dilakukan dengan baik selama ini.

    Namun, menyediakan pasokan senjata yang mampu mengungguli Rusia masih perlu ditingkatkan.

    Pada Februari lalu, Sekjen NATO Jens Stoltenberg mengatakan bahwa perang Ukraina menghabiskan banyak amunisi cadangan senjata negara sekutu.

    “Tingkat pengeluaran amunisi Ukraina saat ini berkali-kali lipat lebih tinggi ketimbang tingkat produksi kami,” kata dia kala itu.

    Ia menyarankan agar negara sekutu mulai memperluas produksi amunisi untuk Ukraina. Salah satunya bisa dengan berinvestasi lebih untuk fasilitas produksi.

    Laporan Insider mengatakan Biden Administration berjanji mengirim lebih dari 200.000 artileri, roket, dan tank. Kendati demikian, AS juga menghadapi keterbatasan produksi berkapasitas tinggi.

    Sejalan dengan itu, Uni Eropa juga berencana mengirimkan 1 juta amunisi untuk memenuhi kebutuhan perang Ukraina.




    Innovation Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.