Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Tragedi ‘Inti Setan’, Bola Pembunuh Ilmuwan yang Mengerikan
    Insight News

    Tragedi ‘Inti Setan’, Bola Pembunuh Ilmuwan yang Mengerikan

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa30 Desember 2022Updated:31 Desember 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Bom nuklir di Nagasaki dan Hiroshima bukan satu-satunya yang disiapkan Amerika Serikat (AS) untuk Jepang pada tahun 1945. Ada bom yang dinamai sebagai ‘demon core’ alias inti setan yang telah disiapkan dan menunggu giliran untuk diledakkan.

    Namun, Jepang menyerah kepada sekutu pada 15 Agustus 1945, setelah mendapat serangan bom kedua. Hal itu membuat bom setan tidak diperlukan lagi.

    Pada akhirnya, bola plutonium dan galium murni dengan berat 6,2 kg itu disimpan untuk penelitian lebih lanjut di laboratorium Los Alamos, New Mexico. Sayangnya, kecelakaan terjadi dan memakan korban di  laboratorium tersebut. 


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Insiden naas ini terjadi pada fisikawan di fasilitas itu, Harry Daghlian. Pada 21 Agustus 1945, dia kembali ke laboratorium sendirian setelah makan malam. Entah iseng atau ingin bereksperimen, Daghlian malah mengelilingi bom setan dengan batu bata yang terbuat dari tungsten karbida.

    Metode itu membuat kondisi bom setan jadi kritis dan bersiap mengeluarkan radiasi tinggak tinggi. Dia terus menyusun batu bata hingga mencapai titik sangat kritis.

    Melansir Science Alert, Jumat (30/12/2022), bencana datang saat dia menarik salah satu batu bata namun tidak sengaja menjatuhkannya ke atas bola. Hal itu membuat bom setan bereaksi, menghasilkan cahaya biru serta gelombang panas.

    Akhirnya, tangan Daghlian menerima radiasi dan terbakar hingga melepuh. Daghlian pun koma dan meninggal 25 hari setelah kejadian tersebut.




    Foto: Science Alert
    Demon Core

    Berikutnya pada 21 Mei 1964, Louis Slotin yang merupakan rekan Daghlian mendemonstrasikan hal serupa. Dia menurunkan kubah berilium, yang juga memantulkan kembali neutron, di atas inti bom.

    Dia berusaha tidak menutupi inti bom dengan obeng. Namun obengnya tergelincir dan kubahnya jatuh menutupi inti iblis.

    “Kilat biru terlihat jelas dalam ruangan, meskipun diterangi baik dari jendela dan mungkin lampu di atas kepala. Total durasi lampu kilat tidak mungkin lebih dari sepersepuluh detik,” jelas Raemer Schreiber yang berada di ruangan itu.

    Seluruh orang di dalam ruangan, terkena radiasi. Namun Slotin yang menerima radiasi dengan dosis mematikan dan lebih besar. Meski awalnya kembali pulih, berat badannya turun, sakit perut, dan menunjukkan tanda gangguan mental. Sembilan hari setelah kejadian dia meninggal.

    [Dexpert.co.id]

    (tib)


    Mind your business Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.