Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Tegarnya 3 Anak Buruh Cuci, Derita Penyakit Langka-Lemah Tak Berdaya
    Inspiring You

    Tegarnya 3 Anak Buruh Cuci, Derita Penyakit Langka-Lemah Tak Berdaya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman8 Maret 2024Updated:9 Maret 2024Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Erwan Budiana, Ahmad Pariadi, dan Agus Riyadi adalah tiga buah hati dari Wati (50) dan Pak Faridi (55) yang mengidap penyakit genetik langka. Mereka bertiga terserang penyakit Duchenne Muscular Dystrophy (DMD), suatu kelainan genetik yang menyebabkan fungsi otot rangka serta otot jantung kian melemah dan dapat memburuk seiring waktu.

    Tak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Mereka hanya bisa bergantung pada terapi untuk memperlambat proses melemahnya otot.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Tiga kakak beradik ini sebenarnya terlahir dengan normal. Keadaan otot-otot tubuh yang melemah ini terjadi ketika mereka memasuki usia 12 tahun. Kondisi kelainan genetik ini menyebabkan melemahnya fungsi otot rangka dan banyak terjadi pada laki-laki. Otot kaki dan otot tangan merupakan bagian utama yang terserang penyakit tersebut. Hal itu membuat aktivitas sehari-hari mereka jadi terhambat.

    Ketiga anak yang tinggal di Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini memiliki gejala penyakit yang sama, namun Erwan sang anak sulung memiliki kondisi yang paling parah. Setidaknya sudah 20 tahun terakhir, Wati harus siap sedia 24 jam untuk merawat Erwan. Ia hanya bisa terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur. Untuk melakukan aktivitas ringan seperti duduk dan minum saja, Erwan memerlukan bantuan dari ibunya.

    Meskipun keadaan fisik mereka yang terbatas, ketiga kakak adik ini selalu semangat dalam menjalani hari-harinya. Keterbatasan tak menjadi alasan bagi mereka untuk terus meraih mimpi. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang selalu melindungi dan mendukung juga menjadi kekuatan bagi mereka.

    “Malah dulu, teman kalau kami di bully orang malah mereka melindungi, menawarkan bila ada yang mengganggu beri tahu. Guru-guru juga bila ada pembulian, guru membela ditangani” ujar Ahmad.

    Salah satunya Agus, anak keenam dari tujuh bersaudara ini masih menempuh pendidikan di sekolah kejuruan multimedia. Ia diterima dengan sangat baik oleh lingkungan sekolah tanpa dibeda-bedakan.

    Hal itu juga dirasakan Ahmad yang sudah lulus 2 tahun lebih dulu dari adiknya. Keduanya memiliki kegemaran menggambar desain dan animasi. Hobi tersebut tetap mereka tekuni hingga saat ini. Bagi mereka, penyakit tersebut tak bisa memadamkan mimpi. Ketiga berpasrah atas kehendak Ilahi.

    “Dalam ajaran kami, Allah itu maha adil. Yang berasal dari Allah, pasti Allah seadil-adilnya untuk hambanya, termasuk takdir ini. Kami menganggap kami tidak bisa berjalan tidak ada rugi juga, bisa berjalan pun tidak ada rugi juga. Ibaratnya adil, sama gitu. Untuk fisik kurang tapi untuk makna kehidupan yang sifatnya luas, seperti keutuhan keluarga, banyak orang fisiknya sempurna tapi keluarganya bermasalah kan itu jadi kesedihan juga. Walaupun kami diberi Allah kesedihannya di fisik, tapi dari segi lain Alhamdulillah diberikan Allah ada senang. Bukan berarti mereka (orang lain) ditakdirkan Allah lebih beruntung daripada saya. Karena saya menganggap Allah itu adil” ujar Ahmad pasrah.

    Beruntung, ketiga bersaudara ini mempunyai ibu yang selalu siap siaga di sisi. Wati senantiasa merawat ketiga anaknya dengan penuh cinta dan kasih.

    “Jalani aja apa yang ada. Sampai mana kekuatan kita kan itu urusan yang di atas sampai mana. Yang penting itu jalanin aja dulu” ungkap Wati yang tetap tegar mengurus ketiga anak tercintanya.

    “Kadang dia (Erwan) nangis kalau katanya nggak ada saya, nggak ada bapak gimana kata dia” ungkap Wati.

    Sebagai anak sulung yang memiliki tanggung jawab pada adik-adiknya, terkadang ketakutan datang pada diri Erwan. Ia takut serta khawatir jika kelak bapak dan ibunya sudah tiada, lantas siapa yang akan merawat dirinya dan kedua adiknya.

    Faridi selaku kepala keluarga, hanyalah seorang buruh di tambang pasir yang mendapatkan upah sebesar Rp 80.000 per harinya. Di sisi lain, Bu Wati juga bekerja sebagai buruh cuci dan setrika di rumah tetangganya dengan upah Rp 50.000 untuk menambah pemasukan keluarganya. Dengan penghasilan tersebut, mereka harus bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Sahabat baik, perjuangan keluarga Faridi dan Wati dalam menjalani hidup begitu penuh dengan perjuangan. Kondisi keluarga yang terbilang jauh dari kata cukup, tak dijadikan sebagai alasan untuk menyerah dengan keadaan. Keluarga ini terus semangat dan tabah dalam menerima takdir yang diberikan Tuhan.

    Dukungan serta bantuan dari #sahabatbaik akan menjadi secercah harapan untuk keluarga Pak Faridi dan Bu Wati agar senyum dari mereka terus mengembang setiap harinya.

    Salah satu cara untuk memberikan dukungan serta bantuan yaitu dengan donasi melalui berbuatbaik.id yang 100% tersalurkan kepada penerima manfaat. Ayo berbuat baik mulai hari ini dan sekarang juga!


    Artikel Selanjutnya


    Berbuatbaik.id Salurkan Bantuan ke Rumah Belajar Merah Putih

    (Sumber: CNBC.com )


    Smart your life Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.