Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Tanda Bumi Panas Mendidih Tampak dari Luar Angkasa
    Insight News

    Tanda Bumi Panas Mendidih Tampak dari Luar Angkasa

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa17 Mei 2023Updated:17 Mei 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – NASA mendeteksi tanda El Nino di Bumi dari Luar Angkasa. Sinyal Bumi bakal panas mendidih dideteksi oleh satelit Sentinel-6 Michael Freilich.

    Satelit Sentinel-6 Michael Freilich merekam gelombang Kelvin bergerak ke arah timur melintas Samudra Pasifik. Fenomena gelombang air hangat ini selalu terjadi sebelum El Nino.

    Gelombang Kelvin bergerak ke arah timur ke pantai barat Amerika Selatan sepanjang Maret dan April. Tinggi gelombang ombak panjang samudra ini hanya 5 sampai 10 cm, tetapi lebarnya mencapai ratusan kilometer.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Fenomena ini terbentuk di khatulistiwa kemudian mendorong air hangat di lapisan atas samudra Pasifik bergerak ke arah barat Pasifik.

    “Kami akan mengamati El Nino seperti elang,” kata Josh Wills dari NASA. “Jika [El Nino] ini besar, suhu panas di Bumi akan mencetak rekor.”

    El Nino sendiri termasuk dalam siklus iklim ENSO. Fenomena ENSO dimulai dengan angin yang bergerak ke arah timur sepanjang khatulistiwa, meniup air permukaan ke barat dari benua Amerika ke benua Asia. Seiring bergeraknya air hangat, air dingin naik ke permukaan.

    Jika El Nino terjadi, fenomena pergerakan angin tersebut melemah sehingga air hangat malah tertiup ke arah timur. Saat El Nino, curah hujan di Indonesia turun drastis, begitu juga di India dan bagian utara Australia. Sebaliknya, hujan dan siklon tropis bertambah banyak di Samudra Pasifik.

    El Nino biasanya terjadi setiap tiga atau lima tahun, tetapi bisa saja lebih sering terjadi. El Nino terakhir terjadi pada 2019 dan berlangsung selama 6 bulan, antara Februari dan Agustus.

    “Gelombang samudra berputar keliling Bumi, membawa panas dan kelembaban ke pantai kita dan mengubah cuaca,” kata ilmuwan NASA, Nadya Vinogradova Shiffer. 

    Pada April, ilmuwan merekam suhu permukaan samudra paling hangat, dengan rata-rata suhu global 21,1 derajat Celcius. Ini merefleksikan dampak dari perubahan iklim dan akhir La Nina.

    “Kini La Nina berakhir dan Pasifik, lautan yang besar, makin panas,” kata Michael McPhaden dari NOAA.



    Smart your life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.