Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Soeharto Resah, Dubes Negara Sahabat Bolak-Balik Singapura
    Insight News

    Soeharto Resah, Dubes Negara Sahabat Bolak-Balik Singapura

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa13 Juli 2023Updated:16 Juli 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Jaringan komunikasi saat Presiden Soeharto menjabat masih buruk. Dalam perkembangannya saat itu ternyata berhasil menciptakan sebuah teknologi baru dalam industri komunikasi.

    Pada awal berkuasa, Soeharto menyadari masalah jaringan komunikasi. Jaringan tersebut tidak menghubungkan satu daerah ke daerah lain.

    Masalah ini berdampak pada lambatnya penerimaan perintah dari pemerintah pusat, termasuk Soeharto sendiri, kepada pejabat yang berada di daerah.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Bukan hanya itu, buruknya jaringan komunikasi di Indonesia juga berdampak ke negara lain. Duta besar negara sahabat protes karena kesulitan berkomunikasi dengan pemerintahnya, mereka harus pergi ke Singapura lebih dulu untuk bisa menelepon.

    Soeharto menjanjikan untuk memprioritaskan pembangunan jaringan komunikasi. Hasilnya dua perusahaan hadir yakni Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel, cikal-bakal Telkom) dan PT. Indonesian Satellite (Indosat).

    Perumtel bertugas untuk mengerjakan komunikasi dalam negeri. Sementara Indosat mengurus jaringan komunikasi ke luar negeri.

    Salah satu yang muncul setelah pembangunan jaringan komunikasi adalah layanan telepon umum. Stasiun telepon pertama di Jakarta didirikan Telkom tahun 1980-an.




    Telepon umum atau telepon koin (Andhika Prasetia/Detikcom)

    Telepon umum cukup mudah diakses, diletakkan di pinggiran jalanan serta pusat-pusat kerumuman. Telkom juga menyediakan dua jenis yakni pada Telepon Umum Coin (TUC) dan Telepon Umum Kartu (TUK).

    Dalam perkembangannya juga muncul model baru telepon umum, Warung Telekomunikasi (Wartel). Ini adalah tempat dengan jumlah telepon mencapai 2 hingga 5 unit.

    Telepon umum ini ternyata disukai banyak masyarakat. Ini membuat mereka tetap bisa berkomunikasi meski tidak mampu memasang telepon sendiri di rumahnya.

    Keberadaan telepon umum pun terus disebar, dan tidak hanya di Jakarta namun juga telepon lain. Bahkan juga menjadi peluang bisnis baru dan membuka banyak pekerjaan baru.




    Kondisi telepon umum yang sudah tidak terpakai di kawasan Jakarta, Rabu (12/7/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Kondisi telepon umum yang sudah tidak terpakai di kawasan Jakarta, Rabu (12/7/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

    “Pada 1992, jumlah seluruh telepon umum yang ada di Indonesia sebanyak 39.670. Pada 1994 telah mencapai 71.482. Lalu, pada tahun 2000 terdapat 305.222. Pertumbuhan telepon umum tersebut berpengaruh pada kepadatan sambungan telekomunikasi, dan pada akhirnya berdampak pada pendapatan PT. Telkom,” tulis 50 tahun Peranan Pos & Telekomunikasi.

    Kemudahan akses telepon pada tahun 2000-an membuat minat akan telepon umum juga mulai turun. Harga hanya sekitar Rp 200-700 ribu, berbeda dengan sebelumnya tahun 1990 yang mencapai Rp 507 juta.

    Keberadaan ponsel juga kian menggerus telepon umum. Sejak saat itu, telepon umum mengalami kemunduran dan tinggal cerita karena disuntik mati oleh Telkom.

    (npb/npb)


    Hitech for better life Techno for life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.