Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Serangan Penipu Menggila, Ini Modus Sedot Rekening Paling Banyak
    Insight News

    Serangan Penipu Menggila, Ini Modus Sedot Rekening Paling Banyak

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa30 Juli 2024Updated:31 Juli 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Serangan ransomware dan business email compromise (BEC) kian menggila dengan lebih banyak bisnis yang menjadi korban. Ransomware sendiri merupakan taktik penipu membobol dan mengunci data korban. Untuk mengaksesnya kembali, korban harus membayar tebusan dalam jumlah fantastis.

    Menurut laporan dari Cisco Talos Incident Response, ransomware dan BEC berkontribusi terhadap 60% dari total serangan yang ada di kalangan bisnis.

    Keterlibatan BEC pada kuartal ini lebih sedikit dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Meski demikian, laporan mencatat bahwa modus tersebut masih menjadi ancaman besar untuk kuartal kedua tahun ini.

    Khusus untuk ransomware, kontribusinya mencapai 30% untuk serangan bisnis pada kuartal ini. Angka itu dari 22% dibandingkan dengan periode tiga bulan lalu.

    Perusahaan teknologi menjadi sasaran

    Laporan tersebut menyatakan sebagian besar organisasi yang menjadi korban serangan ransomware atau BEC berada di industri teknologi.

    Hal ini disebabkan karena perusahaan-perusahaan teknologi memiliki aset digital luas yang mendukung infrastruktur penting. Akibatnya, mereka memiliki toleransi minimal terhadap waktu henti dan kemungkinan besar untuk membayar uang tebusan lebih besar supaya mereka bisa kembali berjalan sistemnya secepat mungkin.

    Selain itu, perusahaan teknologi sering kali dianggap sebagai pintu gerbang ke industri lain.

    Secara total 24% serangan ransomware beberapa bulan terakhir ini berasal dari perusahaan teknologi, diikuti oleh perawatan kesehatan, farmasi, dan ritel. Serangan terhadap perusahaan teknologi meningkat sebesar 30% dari kuartal ke kuartal, demikian dikutip dari TechRadar, Selasa (30/7/2024).

    Talos mengatakan bahwa mayoritas korban atau sebanyak 80% menjadi korban serangan ransomware karena mereka tidak memiliki implementasi MFA yang tepat pada sistem penting, termasuk jaringan privat virtual (VPN).

    Para peneliti menyimpulkan bahwa perusahaan bisa menjadi korban karena sistem yang rentan atau salah konfigurasi. Talos IR mengamati peningkatan 46% pada masing-masing kelemahan keamanan ini dari kuartal sebelumnya.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Ransomware Serang Data Nasional, Negara Harus Gimana?




    Next Article



    Amerika Mendadak Hukum Ukraina, Ini Alasannya



    Smart your life Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.