Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Senjata Pembunuh Israel Hancurkan Gaza, Biden Diminta Tanggung Jawab
    Insight News

    Senjata Pembunuh Israel Hancurkan Gaza, Biden Diminta Tanggung Jawab

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa6 Maret 2024Updated:6 Maret 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Perang berdarah di Gaza masih terus berlangsung. Pasukan Israel dilaporkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) tercanggih dalam skala besar untuk membombardir wilayah tersebut.

    Jumlah korban sipil yang terus meningkat membuat kelompok hak asasi manusia seluruh dunia mempertanyakan apakah senjata pembunuh berbasis AI milik Israel memiliki batasan yang jelas.

    Amerika Serikat (AS) pun turut terseret. Para aktivis menyodorkan pertanyaan ke pemerintahan Joe Biden mengenai sejauh mana mereka membiarkan sekutunya lolos dari penggunaan senjata yang didukung AI.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dalam serangannya di Gaza, militer Israel mengandalkan sistem berkemampuan AI yang disebut Gospel untuk membantu menentukan target, termasuk sekolah, kantor organisasi bantuan, tempat ibadah, dan fasilitas medis. Pejabat Hamas memperkirakan lebih dari 30.000 warga Palestina telah tewas dalam konflik tersebut, termasuk banyak perempuan dan anak-anak.

    Mengutip Politico, belum diketahui apakah ada korban sipil di Gaza yang berdampak langsung dari penggunaan penargetan AI oleh Israel.

    Namun para aktivis di wilayah tersebut menuntut transparansi yang lebih besar, dengan menunjuk pada potensi kesalahan yang dapat dilakukan oleh sistem AI.

    Mereka juga berpendapat bahwa sistem penargetan AI yang bergerak cepat inilah yang memungkinkan Israel menyerang sebagian besar wilayah Gaza.

    Kelompok hak-hak digital Palestina 7amleh berargumentasi dalam sebuah makalah baru-baru ini bahwa penggunaan senjata otomatis dalam perang menimbulkan ancaman paling kejam bagi warga Palestina.

    Organisasi hak asasi manusia tertua dan terbesar di Israel, Asosiasi Hak-Hak Sipil di Israel, mengajukan permintaan Kebebasan Informasi kepada divisi hukum Pasukan Pertahanan Israel pada Desember lalu yang menuntut lebih banyak transparansi mengenai penargetan otomatis.

    Sistem Gospel, yang hanya diberi sedikit rincian oleh IDF, menggunakan pembelajaran mesin untuk dengan cepat mengurai sejumlah besar data guna menghasilkan target serangan potensial.

    Pasukan Pertahanan Israel menolak berkomentar mengenai penggunaan bom berpemandu AI di Gaza, atau penggunaan AI lainnya dalam serangan mereka.

    Seorang juru bicara IDF mengatakan dalam sebuah pernyataan publik pada Februari bahwa meskipun Gospel digunakan untuk mengidentifikasi target potensial, keputusan akhir untuk melakukan serangan selalu dibuat oleh manusia dan disetujui oleh setidaknya satu orang lain dalam rantai komando.

    IDF mencatat, bahwa selain meningkatkan akurasi, sistem Gospel memungkinkan penggunaan alat otomatis untuk menghasilkan target dengan cepat. Pernyataan yang sama mengatakan bahwa Israel telah mencapai lebih dari 12.000 sasaran dalam 27 hari pertama pertempuran.

    Dorongan untuk mendapatkan lebih banyak jawaban mengenai perang AI yang dilakukan Israel berpotensi ramai di AS, sehingga menciptakan tuntutan bagi Negeri Paman Sam itu untuk mengawasi teknologi sekutunya di luar negeri dan menciptakan kebijakan bagi anggota parlemen AS yang ingin menggunakan AI di medan perang di masa depan.

    Beberapa orang yang melacak kebijakan peperangan AI di AS berpendapat bahwa Israel memutarbalikkan tujuan teknologi tersebut. Mereka menggunakannya untuk memperluas daftar target daripada melindungi warga sipil. Dan, menurut mereka, AS harus menyalahkan IDF atas pelanggaran etika tersebut.

    “Sudah jelas bahwa Israel telah menggunakan AI untuk mendapatkan apa yang mereka sebut sebagai ‘target kekuatan’ sehingga mereka menggunakannya dengan sengaja, bukan dari apa yang seharusnya. Mereka menggunakan AI untuk menyasar target secara presisi. Targetnya pun merupakan warga sipil,” 

    “Dengan lebih dari 30.000 korban di Gaza, sulit untuk mengetahui apakah IDF menggunakan AI berteknologi tinggi untuk mengidentifikasi target atau melemparkan anak panah ke seluruh wilayah untuk memusnahkan Gaza,” kata Shaan Shaikh, wakil direktur dan rekan Proyek Pertahanan Rudal di Center for Strategic.

    “AS harus menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan operasi ini. Namun sejauh ini, pemerintahan Biden tidak bersedia melakukannya,” ia memungkasi




    Innovation Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.