Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Roleplay di TikTok Bikin Was-Was, Psikolog Ungkap Bahayanya
    Insight News

    Roleplay di TikTok Bikin Was-Was, Psikolog Ungkap Bahayanya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa22 Juni 2023Updated:24 Juni 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Istilah ‘roleplay’ jadi bahan pembicaraan hangat beberapa waktu terakhir di TikTok. Mulanya karena sebuah video yang viral memperlihatkan seorang ayah memergoki anaknya tengah bermain roleplay.

    Lantas, apa itu roleplay? Secara harafiah, roleplay (semestinya ditulis ‘role play’) berarti memainkan peran tertentu di luar karakter diri seseorang.

    Permainan ini tak hanya ramai di TikTok, namun juga bisa ditemukan di media sosial lain seperti Instagram. Pengguna media sosial akan memainkan peran sebagai orang lain, misalnya idola K-Pop mereka atau karakter unik lainnya.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dalam konteks video ayah yang viral, ia memarahi putrinya karena memainkan peran yang tidak sesuai dengan usianya. Sang anak bermain roleplay dengan melibatkan orang asing dan seolah-olah memiliki ‘anak’.

    Permainan yang ramai di media sosial dan kerap disebut ‘RP’ ini juga bisa memerankan karakter dengan sangat niat. Misalnya, pemain akan menggunakan nama lain dengan gambar profil yang sesuai karakter RP.

    Melansir Itgeared, pemain RP biasanya akan memasukkan informasi fiktif. Tujuannya untuk mempertahankan identitas yang tengah dilakoni.

    Psikiater Lahargo Kembaren, SpKj menjelaskan alasan seorang anak memainkan RP dengan orang yang tidak dikenal. Menurutnya, anak ingin mendapatkan perlakuan yang tidak didapatkan dalam kehidupan nyatanya.

    Sisi buruknya, RP akan menimbulkan adiksi. Anak yang memainkannya tidak bisa berhenti melakukannya, karena merasa nyaman dan tenang.

    “Ketika dia roleplay, ada kenyamanan, ‘ternyata senang ya aku jadi peran ini’. Itu di otaknya akan keluar hormon dopamine yang bikin kenyamanan bagi dia. Dia akan merasa tenang dan nyaman sesaat, tapi ketika sudah menurun dia tidak punya cara lain lagi untuk mendapatkan ketenangan itu selain melakukan hal yang sama, sehingga terjadilah pola perilaku yang berulang-ulang,” jelas Lahargo dikutip dari detik.com, Kamis (22/6/2023).

    Peran orang tua dalam permainan RP sangat diperlukan. Harapannya, anak tidak mencari kenyamanan pada aktivitas yang tidak pantas.

    Dia menambahkan, orang tua perlu mengetahui bahwa kebutuhan anak bukan hanya terkait hal-hal fisik, namun juga emosional. Kedekatan emosional antara anak dan orang tua perlu dibangun dan dipelihara.


    Artikel Selanjutnya


    Perhatian! Main TikTok Sekarang Hanya Bisa 1 Jam Sehari

    (npb/npb)


    High Technology Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.