Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»RI Tarik Investasi Apple Pakai Aturan TKDN, Ini Analisis Ekonom UI
    Insight News

    RI Tarik Investasi Apple Pakai Aturan TKDN, Ini Analisis Ekonom UI

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa5 Desember 2024Updated:5 Desember 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Indonesia diminta agar tidak hanya mengandalkan aturan konten lokal dalam menarik investasi. Pasalnya, strategi ini punya kekurangan yang harus dilengkapi oleh strategi lain.

    Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menjelaskan, TKDN sebetulnya bukan kebijakan yang baru di level global. Kebijakan ini diterapkan oleh negara-negara seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Jerman dan lainnya.

    Sementara Indonesia menjadi salah satu negara yang paling doyan menerapkan TKDN. Di antara negara BRICS, misalnya, Indonesia termasuk yang paling tinggi kebijakan TKDN-nya.

    Begitu juga di antara negara berkembang yang sedang dalam proses menjadi negara maju, seperti India, Vietnam, Malaysia, yang berusaha mengintegrasikan ekonominya ke rantai nilai global, sudah makin meninggalkan kebijakan TKDN.

    “Ada sebuah aspek di sini yang mungkin saya perlu angkat adalah, bahwa kebijakan ini sifatnya itu cenderung distortif, artinya ada quote-unquote dipaksa untuk kemudian barang impor itu harus mengintegrasikan sekian proses komponen domestiknya,” ujar Teuku dalam acara Seluler Business Forum di Jakarta, Kamis (5/12/2024). “Artinya ada market mechanism yang di-bypass disini,” imbuhnya.

    Ia kemudian bicara soal iPhone yang di Vietnam, di Singapura, Malaysia dan Taiwan yang tingkat komponen dalam negerinya bisa tinggi. Hal tersebut bukan karena kebijakan TKDN, tapi memang karena komponen mereka memiliki daya saing sehingga bisa meningkat. Ia menyebutnya sebagai market mechanism.

    “Nah Indonesia harus seperti itu, tapi nyatanya by force, bukan by market mechanism,” kata Teuku.

    “Jadi memang disini quote-unquote kesannya adalah kita mau produk kita dipakai, tapi sebetulnya kalau enggak ada pasar tersebut, enggak ada yang mau pakai,” jelasnya.

    Teuku menjelaskan alasan lain banyak negara meninggalkan TKDN karena kebijakan tersebut menutupi kekurangan daya saing yang dimiliki oleh produk domestik. Mereka jadi tidak bisa melacak dan mengukur seberapa jauh daya saing atau tingkat kompetitif dari produk domestik mereka.

    “Karena kalau by design TKDN, ya at least atau bahkan mostly itu akan kebanyakan bahan impor komponennya sebesar daya TKDN aja. Kita enggak tahu nilai aslinya produk global mau pakai produk kita itu berapa persen sih dalam komponennya,” ujar dia.

    “Nah ini yang kemudian kita gak bisa dapet feedback kira-kira apa yang perlu di improve dari produk domestik kita.” pungkasnya.

    (dem/dem)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Kemenperin Terima Surat Dari Apple, Ngebet Mau Jual iPhone 16





    Next Article



    Alasan iPhone 16 Dilarang Masuk RI, Apple Angkat Bicara



    Innovation Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.