Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»RI Bisa Jadi Hub Data Center di Asia Pasifik, Ini Syaratnya!
    Insight News

    RI Bisa Jadi Hub Data Center di Asia Pasifik, Ini Syaratnya!

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa11 September 2024Updated:11 September 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id  – Chairman Indonesia Data Center Provider (IDPRO), Hendra Suryakusuma mengungkapkan Indonesia seharusnya bisa menjadi hub untuk bisnis pusat data atau data center di Asia Pasific. Apalagi banyak perusahaan mengindikasikan pada tahun depan Indonesia bisa mengantongi USD 130 miliar investasi dari data.

    “Indonesia memiliki makro ekonomi, jumlah penduduk, dan teknologi. Kita hanya kurang energi terbarukan (renewable energy) padahal potensi kita sangat besar di situ dengan adanya geothermal, hydro, dan juga solar farming,”kata Hendra dalam Data Center Industry Dialogue dengan tema “Data Center The New Engine for Indonesia Economy”, pada Rabu, (11/9/2024).

    Menurut Hendra masalahnya hanya bagaimana mendorong iklim investasi dan tumbuh kembangkan full of talent data center. Untuk talent menurut Hendra saat ini pihaknya terus bekerja sama termasuk dengan akademisi.

    Adapun soal energi terbarukan, pemerintah harus bisa terus mendorong hal ini, karena saat ini ada terminologi di para pemain ESG bahwa “bussiness goes where emission are low”.

    “Malaysia saat ini sedang terus membangun energi terbarukan dengan solar farming dengan target 6 Giga Watt yang pada 2025 harus mulai bisa digunakan demi menarik investasi,” rinci Hendra.

    Hendra tidak memungkiri tantangan yang harus diatasi di industri data center, salah satunya terkait pemenuhan sumber atau suplai power, khususnya dari energi bersih.

    Hendra mengatakan, secara fundamental bisnis data center membutuhkan power atau kebutuhan energi listrik hingga 24 MW. Angka ini merupakan angka yang besar, sehingga dibutuhkan sumber energi baru terbarukan.

    “Kita butuh disuplai listrik yang renewable, banyak yang sudah minta. Energi mix di Indonesia masih coal, makanya kami beli sertifikat,” kata Hendra.

    Lebih lanjut kata Hendra tantangan lain di industri data center yakni terkait SDM. Menurutnya, saat ini banyak anggota IDPRO saling bajak membajak pegawai akibat kurangnya tenaga ahli.

    “Selain itu bagaimana akselerasi di bidang ini dan juga terkait dengan birokrasi yang dibikin lebih cepat. Konseptual butuh 1-2 bulan, klo PBG butuh waktu dan dana yang banyak,” jelasnya.

    Untuk diketahui, Bisnis pusat data atau data center diproyeksikan tumbuh mencapai US$ 39,7 miliar secara global, dengan peningkatan per tahun 4,8% pada tahun 2032. Sementara di Indonesia memiliki peluang pasar industri data center hingga US$ 3,37 miliar di tahun ini.

    .

    (dpu/dpu)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Jurus Indonesia Perkuat Ekosistem & Tarik Investasi Data Center





    Next Article



    Sumber Dolar Baru RI Tergoncang Singapura, Mau Direbut Malaysia



    High Technology Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.