Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Raksasa Teknologi Bakal Tumbang, Nasib Apple-Google-Facebook Terancam
    Insight News

    Raksasa Teknologi Bakal Tumbang, Nasib Apple-Google-Facebook Terancam

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa14 Mei 2024Updated:14 Mei 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Ahli strategi UBS Global Research, Jonathan Golub, meramalkan 6 raksasa teknologi bakal tumbang dalam beberapa kuartal ke depan. Tak main-main, perusahaan yang masuk ‘Top 6’ tersebut adalah Apple, Amazon, Alphabet, Meta, Microsoft, dan Nvidia,

    Pertumbuhan laba per saham (EPS) untuk keenam raksasa teknologi ‘Top 6’ tersebut diproyeksikan turun menjadi 15,5% pada kuartal pertama 2025, dari perkiraan 42,2% untuk periode yang sama tahun ini.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Golub juga mencoba menurunkan peringkat perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar tersebut.

    “Penurunan peringkat Top yang kami lakukan, dari ‘Overweight’ menjadi ‘Netral’, tidak didasarkan pada valuasi yang diperpanjang, atau keraguan terhadap kecerdasan buatan,” kata Golub, dikutip dari Reuters, Selasa (14/5/2024).

    “Sebaliknya, hal ini merupakan akibat dari persaingan yang sulit dan kekuatan siklus yang membebani saham-saham ini,” ujarnya menjelaskan.

    Kendati demikian, saham-saham perusahaan teknologi lainnya di luar ‘Top 6’ diramal akan berkinerja lebih baik. Kenaikan EPS-nya ditargetkan hampir 26% pada kuartal pertama 2025, dari 11,1% yang diproyeksikan untuk periode yang sama tahun ini.

    Perusahaan-perusahaan Top 6 yang dianggap sebagai pemimpin sektor teknologi dan kinerja S&P 500, akan melaporkan hasil kuartalannya dalam dua minggu ke depan.

    Meningkatnya imbal hasil obligasi, data ekonomi AS baru-baru ini yang lebih tinggi dari perkiraan, dan ketidakpastian seputar prospek penurunan suku bunga Federal Reserve juga membebani saham-saham dengan valuasi tinggi.

    Momentum pendapatan 6 perusahaan ini telah mengalami empat gelombang siklus yang berbeda. Dimulai saat pandemi Covid-19 yang mendorong permintaan konsumen terhadap komputer pribadi (PC), belanja online, dan media sosial.

    Kemudian, setelah pandemi mereda dan perekonomian dibuka kembali, laba menurun karena berkurangnya permintaan terhadap produk teknologi, sehingga mendorong kontraksi pertumbuhan EPS pada 2022.

    Lalu pada 2023, peningkatan laba disebabkan oleh perbandingan yang lebih mudah dan pengurangan biaya operasional perusahaan.

    “Pendapatan diproyeksikan akan kembali normal dengan cepat di sektor teknologi mega-cap, menyusul penurunan tajam dalam pertumbuhan laba dari 4Q23-3Q24,” kata Golub.

    Perusahaan-perusahaan tersebut saat ini melakukan perdagangan pada kisaran 21.6-39 kali rasio harga terhadap pendapatan (PE) 12 bulan ke depan. Sementara indeks acuan S&P 500 membuka perdagangan baru sekitar 25 kali.




    Innovation Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.