Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Prospek Besar Ekonomi Digital, HIPMI: Tekanan Hanya Sementara
    Insight News

    Prospek Besar Ekonomi Digital, HIPMI: Tekanan Hanya Sementara

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa16 Mei 2022Updated:17 Mei 2022Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan menyentuh US$ 146 miliar pada 2025. Proyeksi ini berdasarkan laporan terbaru e-Conomy SEA 2021 yang dikeluarkan Google, Bain & Company

    Laporan tersebut menyebutkan nilai ekonomi digital Indonesia melesat 49% year-on-year menjadi US$ 70 miliar pada 2021, dan menjadi US$ 146 miliar pada 2025. Tingginya potensi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia disebabkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat Indonesia.

    Bahkan di saat pandemi Covid-19, peningkatan jumlah konsumen digital mencapai 21 juta sejak Januari 2021. Besarnya potensi ekonomi digital tersebut harus ditangkap sebagai peluang.

    Ketua Bidang IV BPP HIPMI Arya Anugrah Pratama Kuntadi mengatakan bangsa Indonesia tak hanya sekadar sebagai pengguna platform digital perusahaan multi nasional. Tetapi lebih dari itu yakni sebagai developer dan mampu menjual platform digital asli Indonesia ke pasar internasional.

    Selain itu, langkah Menteri Erick Thohir dalam membuat Merah Putih Fund dinilai Arya sebagai langkah terobosan yang sangat strategis untuk menumbuhkan dan membuat ekosistem digital nasional semakin kuat. Diharapkan akan semakin banyak bermunculnya unicorn dan decacorn asli Indonesia.

    Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis point (bps) atau 0,50 persen membuat indeks bursa global dan Indonesia mengalami tekanan. Tekanan jual saham yang terbesar saat ini dialami oleh perusahaan yang bergerak di bidang teknologi seperti bank digital dan marketplace.

    Tekanan jual yang saat ini terjadi di pasar saham dinilai wajar oleh Arya. Koreksi yang terjadi pada saham-saham teknologi dinilai Arya hanya sementara saja. Ketika sentimen kenaikan FED sudah mereda, kinerja harga saham perusahaan digital akan kembali pulih.

    Dengan jumlah penduduk yang besar dan besarnya potensi masyarakat Indonesia yang belum menggunakan platform digital masih menjadi daya pikat tersendiri pertumbuhan ekonomi digital.

    “Elon Musk dengan SpaceX dan Starlink aja tertarik untuk menggarap ekonomi digital Indonesia. Itu menunjukan potensi pertumbuhan ekonomi digital nasional yang sangat besar. Termasuk di perusahaan startup dan digital nasional,” ungkap Arya.

    Beberapa waktu yang lalu, Telkom Group melakukan investasi di saham GoTo. Arya menilai investasi yang dilakukan Telkom Group ke perusahaan digital seperti GoTo merupakan keniscayaan. Sebab investasi ke perusahaan digital juga dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi global.

    Tujuannya adalah untuk dapat membangun ekosistem digital, sehingga perusahaan telekomunikasi dapat terus mempertahankan pendapatannya dan mampu berkembang di pasar digital yang semakin luas.

    “Telkom Group harus menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Bahkan kalau bisa Telkom harus menjadi leader ekonomi digital di kawasan regional. Agar Telkom dapat terus mempertahankan pendapatannya dan bisa mengembangkan ekonomi digital nasional, mereka harus masuk ke perusahaan digital. Mereka juga harus memasukkan orang-orang yang berpengalaman di perusahaan rintisan digital. Dan itu mereka sudah lakukan,” kata Arya.

    Saat ini investasi yang ditanamkan Telkom Group di perusahaan digital seperti GoTo mengalami koreksi yang sangat drastis. Arya melihat koreksi harga saham GoTo yang mempengaruhi nilai investasi Telkom Group adalah sesuatu yang lumrah terjadi. Sebab harga saham GoTo dan perusahaan teknologi lainnya, baik itu di BEI maupun global, tengah mengalami tekanan jual.

    Arya menilai fluktuasi harga yang saat ini terjadi di pasar saham adalah sesuatu yang wajar. Investor tidak bisa memastikan investasi yang ditanamkan pasti untung atau rugi. Sebab fluktuasi harga saham di bursa dipengaruhi beberapa sentimen seperti sentimen global, regional, dan lokal. Saat ini koreksi harga yang terjadi di saham GoTo, Arya menduga semata-mata karena kenaikan bunga FED. Penurunan harga saham juga dialami oleh perusahaan teknologi lainnya. Tidak ada sentimen lain di luar kenaikan suku bunga FED.

    “Saya yakin pihak Telkom Group sudah menjalankan prosedur yang benar ketika hendak melakukan investasi di perusahaan digital seperti GoTo. Justru saya mendorong agar terus ada kolaborasi yang positif antara BUMN dengan swasta nasional, termasuk dalam mengembangkan perusahaan digital. Sebab negara yang maju pasti memiliki kolaborasi yang kuat antara BUMN dan swasta. Jika bukan BUMN kita yang berperan, siapa lagi yang akan mengembangkan ekonomi digital Indonesia,” pungkas Arya.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Akselerasi Inklusi Keuangan, Telkomsel Dukung BFN & IFS 2021

    (rah/rah)


    Mind your business Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.