Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Pengorbanan Guru Ngaji Bertangan Satu Rawat Buah Hati yang Autis-Buta
    Inspiring You

    Pengorbanan Guru Ngaji Bertangan Satu Rawat Buah Hati yang Autis-Buta

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman25 Juni 2024Updated:26 Juni 2024Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Uswatun Hasanah harus menjalani hidup penuh cobaan bersama keluarganya. Uswatun yang berprofesi sebagai guru ngaji memiliki keterbatasan fisik karena terlahir dengan hanya satu tangan. Sehari-hari ia mengandalkan tangan kirinya untuk mengajar ngaji, mengurus rumah, dan juga anak-anak.

    “Saya itu memang dilahirin udah gini. Jadi tangan saya memang lahirnya agak lemes. Kata ibu sih begini, dulu kan saya lahir di dukun nih, jadi semua organ tubuh ini udah pada keluar ini tangan ketinggalan terus ditarik, katanya gitu. Jadi sarafnya pada putus gitu.” ungkapnya.

    Dari pekerjaannya sebagai guru ngaji, Uswatun hanya menerima upah Rp 500 ribu sebulan. Itupun tidak tentu karena pekerjaan ini tak selalu ada.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Karena kita kan sosial yah, cuman kadang-kadang saya bisa dapet Rp 500 ya. Alhamdulillah saya terima. Karena kita kan memang gak nyari materi gitu. Aaya biasanya kalo sore terima privat ngaji, terima privat baca tulis, terus kalo malemnya saya ada majelis taklim. Ya itu juga gak bisa kita prediksi ya, gak menentu gitu,” jelas dia.

    Tentu jumlah ini tak mencukupi keluarganya apalagi dengan 5 orang anak dan 2 di antaranya sakit. Sementara itu Ikhwan, suami Uswatun, harus menerima keadaan patah tangan akibat terjatuh.

    Dulunya ia bekerja sebagai sopir ojek, tapi sekarang semua itu terhenti. Kini ia tak bisa seaktif dulu lagi akibat tangannya yang sudah tak kuat untuk melakukan aktivitas berat. Saat ini Ikhwan menjadi pekerja lepas dari tawaran beberapa rekannya, mayoritas tawarannya adalah sopir antar jemput.

    Keduanya bersama fokus untuk membesarkan 5 anak yang 2 di antaranya sakit. Anak sulungnya, Kholil (17), didiagnosa epilepsi sejak 2 minggu terlahir ke dunia. Serangan kejang tanpa panas sering kali terjadi, mengakibatkan perkembangan motoriknya yang lambat.

    Setelah dua tahun melalui berbagai pengobatan, Kholil ternyata mengalami Delayed Development dan autisme. Bahkan saat ini Kholil juga mengalami kebutaan. Hal itu terjadi karena Kholil yang seringkali tantrum dengan menyakiti dirinya sendiri. Ia membenturkan kepalanya terus menerus sehingga berimbas kepada penglihatannya saat ini.

    Dengan beberapa penyakit yang menyerang sang anak sulung, Pak Ikhwan merasa sangat terpukul saat itu. Berharap bisa mencapai kesembuhan, Kholil rupanya harus diterpa berbagai penyakit.

    “Dengan diagnosa begitu saya bener-bener terpukul banget 2018 itu. Anak yang tadinya normal harus kehilangan bola mata dua-duanya. Maksudnya saya kan biar punya kekurangan tapi paling enggak dia bisa keluar main ngeliat dunia. Ya saya saat itu down. Apa ya dibilangnya gak bisa menerima kenyataan.” ungkap Ikhwan lirih.

    Selain Kholil, putra kedua mereka, Kahfi, juga harus hidup berdampingan dengan penyakit Idiopathic Thrombocytopenic Purpura merupakan penyakit kelainan darah yang dipicu oleh virus yang membuat trombosit terganggu. Hal tersebut memaksanya untuk tidak boleh beraktivitas berat hingga kelelahan. Hal ini membuat Ikhwan dan istri perlu menjaga Kahfi dengan ekstra.

    “Dia gak boleh capek, gak boleh terluka, gak boleh stres. Nanti kalo udah itu dia mimisan pendarahan gak berhenti-berhenti, kecuali dikasih obat pemberhenti darah.” tutur sang ibu menjelaskan.

    Jika orangtuanya sedang sibuk, Aisyah atau kerap disapa Ica paling sering bertugas menjaga sang kakak sulung. Duduk dibangku kelas 3 SD, Aisyah tak jarang harus banyak mengalah demi mengurus abang tercinta. Izin tak masuk sekolah hingga tak bisa bermain bersama teman-teman sebayanya ia lakukan guna menjaga abangnya yang kini lebih banyak terbaring di atas kasur.

    “Pokoknya saya udah ngomong ke anak-anak, kita semuanya harus bisa kerjasama ya. Kan kita ngerti abangnya kayak gitu. Kita harus selalu tolongin. Dan inget ya kak, abang itu udah punya kunci surga loh, kalo kita baik ke abang nanti kita dibantu sama abang masuk surga.” pungkas Uswatun.

    Menjalani hidup dengan penghasilan yang tak menentu, sering kali membuat mereka cemas. Untuk makan sehari-hari anak agar perut kenyang saja terkadang rasanya sulit, apalagi untuk memenuhi biaya berobat anak-anak spesialnya. Meski hidup penuh tantangan, kasih sayang dan pengorbanan tanpa batas terus mereka berikan demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak.

    Kisah perjuangan Ikhwan dan istri yang tak kenal lelah, bertahan dalam keterbatasan demi cinta kepada buah hati mereka jadi satu pembelajaran bagi semua. Sahabat Baik, mari kita bantu keluarga ini untuk terus menjaga asa dan berjuang dalam hidup mereka dengan Donasi di berbuatbaik.id. Seluruh donasi 100% tersalurkan tanpa potongan dan akan sangat bermanfaat bagi Ikhwan dan keluarga.


    Artikel Selanjutnya


    Kisah Pemulung yang Dijangkiti Kusta, Bertahan Demi Keluarga

    (Sumber: CNBC.com )


    Ide Sukses Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.