Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Penemuan Fosil Ini Ungkap Fakta Ngeri Nenek Moyang Manusia
    Insight News

    Penemuan Fosil Ini Ungkap Fakta Ngeri Nenek Moyang Manusia

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa1 Juli 2023Updated:1 Juli 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Sebuah fosil tulang kering kaki nenek moyang manusia ditemukan dalam kondisi penuh sabetan. Setidaknya ada sembilan sobekan yang menyebabkan para peneliti berkesimpulan, nenek moyang manusia saling membantai 1,45 jutaan tahun lalu, bukan untuk ritual.

    Ahli paleoantropologi National Museum of Natural History di Washington DC, Briana Pobiner mengungkapkan hal ini. Ia menyimpulkan kondisi itu saat melihat fosil tibia yang ditemukan di dalam koleksi Museum Nasional Kenya Nairobi National Museum.

    Pobiner saat itu tengah mempelajari koleksi museum, mencari bekas gigitan dari hewan punah yang mungkin memangsa hominin purba. Namun, ketika itu dia menemukan luka pada fosil tulang yang terlihat seperti dibuat oleh perkakas batu.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Bekas potongan ini terlihat sangat mirip dengan apa yang saya lihat pada fosil hewan yang sedang diproses untuk dikonsumsi,” kata Pobiner dalam siaran pers, seperti dikutip dari CNN International, Sabtu (1/7/2023).

    “Tampaknya kemungkinan besar daging dari kaki ini dimakan, bukan untuk ritual.”

    Peneliti lainnya, yang merupakan paleoanthropologist dari Colorado State University, Michael Pante membuat model 3D dari cetakan tulang itu. Tujuannya untuk membandingkan bentuk potongan itu dengan database yang ada dari 898 gigi individu, pemotongan, dan tanda injakan yang dibuat selama percobaan.

    Dari hasil coba itu, Pante menemukan bahwa semua bekas luka menunjukkan arah kesimpulan yang sama, yakni luka yang disebabkan perkakas batu, sehingga memungkinkan tangan yang memegang alat batu membuat tanda satu demi satu tanpa mengubah pegangan.

    Kendati begitu, para peneliti itu belum dapat menemukan tulang kaki itu berasal dari spesias nenek moyang manusia yang mana. Kemungkinan karena tulang kaki tidak memberukan informasi taksonomi sebanyak tengkorak atau tulang rahang.

    Fosil tibia awalnya diidentifikasi para peneliti sebagai Australopithecus boisei, namun kemudian pada 1990 diidentifikasi sebagai Homo erectus.

    Bekas-bekas luka sabetan di tulang kali itu sendiri tidak secara pasti menjadi bukti bahwa manusia purba memakan kaki tersebut, tetapi Pobiner mengatakan itu mungkin saja terjadi. Sebab, bekas luka terletak di tempat otot betis yang menempel pada tulang, dan itu tempat yang baik untuk memotong jika tujuannya adalah untuk menghilangkan daging.

    “Informasi yang kami miliki menunjukkan bahwa hominin kemungkinan besar memakan hominin lain setidaknya 1,45 juta tahun yang lalu,” kata Pobiner.

    “Ada banyak contoh spesies lain dari pohon evolusi manusia yang saling memakan untuk memperoleh nutrisi, tetapi fosil ini menunjukkan bahwa kerabat spesies kita saling memakan untuk bertahan hidup lebih jauh ke masa lalu daripada yang kita kenali.”

    Silvia Bello, seorang peneliti human origins di London’s Natural History Museum mengatakan bahwa kanibalisme mungkin lebih umum terjadi pada masa lalu daripada yang diperkirakan selama ini.

    Ia mencatat bahwa bukti perilaku tersebut juga telah ditemukan di situs arkeologi yang terkait dengan Neanderthal dan manusia modern awal.

    Misalnya, Neanderthal yang hidup 100.000 tahun yang lalu di tempat yang sekarang disebut Prancis mempraktikkan kanibalisme. Ia memperkirakan perilaku itu disebabkan iklim yang lebih hangat sehingga makanan lebih sulit didapat.

    Kepala peneliti human origins di London’s Natural History Museum, Chris Stringer mengatakan, sebetulnya temuan luka sabetan yang diduga akibat saling bantai itu juga sebelumnya telah ditemukan pada tulang pipi fosil hominin yang ditemukan di Sterkfontein, Afrika Selatan, pada 2000, yang berusia sekitar 2 juta tahun lalu.

    “Bukti baru ini terlihat cukup meyakinkan dan menambah bukti kanibalisme pada masa-masa awal, serta bukti yang cukup banyak pada temuan-temuan selanjutnya,” kata Stringer.

    (luc/luc)


    Insight for you Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.