Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»PCR Positif Tapi Tak Bisa Dapat Obat Gratis? Ini Solusinya
    Insight News

    PCR Positif Tapi Tak Bisa Dapat Obat Gratis? Ini Solusinya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa19 Februari 2022Updated:19 Februari 2022Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Pemerintah memberikan obat gratis kepada mereka yang terinfeksi Covid-19. Namun masih banyak masyarakat yang mengeluhkan belum mendapatkan obat tersebut meski tengah isolasi mandiri.

    Padahal, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperluas sasaran layanan untuk yang melakukan isolasi mandiri.

    Kini layanan konsultasi dokter dan pengiriman paket obat gratis ini bisa digunakan pasien dengan hasil pemeriksaan RDT Antigen positif COVID-19.

    “Kami menambahkan fitur lain di layanan telemedisin, mulai nanti sore (16/2) kita juga akan mengcover pasien yang melakukan tes lab antigen yang positif,” kata Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan, Setiaji di laman resmi Kemenkes dikutip Sabtu (19/2/2022).

    Untuk mendapatkan layanan ini, pasien harus melakukan pemeriksaan RDT-Antigen di faskes atau laboratorium yang terafiliasi dengan sistem NAR Kemenkes.

    Jika hasil RDT- Antigen positif, faskes dan lab pemeriksa harus menginput hasilnya ke NAR Antigen Kemenkes. Selanjutnya, pasien otomatis akan mendapatkan WA Konfirmasi. Namun apabila tidak mendapatkan WA, pasien bisa cek NIK secara manual di https://isoman.kemkes.go.id/

    WA konfirmasi tersebut bisa digunakan untuk konsultasi dokter dan menebus pake obat gratis. Obat disediakan Kimia Farma dan dikirimkan oleh SiCepat.

    “Saat ini kita sudah mempercepat layanan ini, sehingga maksimal 24 jam sudah sampai di rumah pasien yang melakukan isoman,” ujarnya.

    Selain penambahan fitur, Kementerian kesehatan juga akan memperluas layanan telemedisin bagi pasien isolasi mandiri ke Luar Pulau Jawa-Bali yakni Medan, Palembang, Balikpapan, Banjarmasin, Manado dan Makassar.

    Sebagai informasi, layanan telemedisin hadir untuk mempermudah pasien isoman mendapatkan layanan kesehatan dan akses obat-obatan dengan risiko kesehatan yang minim. Saat ini total ada 17 platform yang menyediakan layanan telemedisin.

    Di sisi lain, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, masyarakat dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas terdekat. Dalam hal ini, anggota keluarga atau kerabat terdekat pasien Covid-19 dapat mendatangi puskesmas dengan membawa hasil rapid antigen atau swab PCR positif untuk mendapatkan obat dan layanan konsultasi langsung.

    Nadia menjelaskan, ketika puskesmas mendapat hasil swab tersebut, tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas dapat langsung melakukan pengecekan data dan informasi dengan meminta nomor kontak pasien Covid-19 untuk melakukan telekonsultasi guna memastikan pasien tersebut melakukan isolasi mandiri atau isolasi terpusat (isoman/isoter) bagi pasien tanpa gejala dan gejala ringan. Sementara pasien dengan gejala sedang dan berat mendapat penanganan lebih lanjut di rumah sakit.

    “Untuk tanpa gejala dan gejala ringan ini akan mendapatkan paket obat yang sama dengan yang diberikan melalui layanan telemedisin. Bahkan, mereka bisa mendapat obat lebih, misalnya obat penurun panas dan lain-lain karena konsultasi langsung dari puskesmas dan ada ketersedian obat tambahan lain,” kata Nadia.

    Ia menambahkan, peran puskesmas ini juga dapat dimanfaatkan oleh pasien Covid-19 yang melakukan pemeriksaan di laboratorium jejaring NAR yang belum mendapat paket obat karena ada keterlambatan.

    Dikatakan Nadia, keterlambatan paket obat ini karena laboratorium terlambat melakukan entry data pasien Covid-19 ke aplikasi NAR. Pasalnya, tidak semua laboratorium yang terhubung NAR dapat melakukan integrasi langsung. Hal ini menyebabkan paket obat terlambat.

    Untuk itu, Nadia mendorong laboratorium tidak menunda input data positif pasien, sehingga data tersebut dapat diproses dengan bantuan robot untuk diteruskan kepada platform telemedisin.

    Menurut Nadia, laporan keterlambatan obat biasa 3-4 hari, jika melebihi dari durasi tersebut ada kendala lain di lapangan seperti perbedaan alamat tempat tinggal atau nomor kontak yang dicantumkan tidak memiliki WhatsApp, sehingga paket obat tidak sampai ke rumah pasien.

    Sementara layanan kesehatan disiapkan oleh Kemenkes memanfaatkan fitur WhatsApp. Pasien positif mendapat informasi melalui pesan WhatsApp dari Kemenkes RI dengan centang hijau secara otomatis.

    Nadia menjelaskan apabila tidak mendapatkan WhatsApp pemberitahuan, pasien bisa memeriksa NIK secara mandiri di situs https://isoman.kemkes.go.id.

    Untuk itu, Nadia menyarankan, pasien yang belum mendapat paket obat untuk datang langsung ke puskesmas untuk mendapat penanganan secepat mungkin.

    “Ke puskesmas saja kalau macet telemedisin, karena sistem telemedisin hanya membantu dan meringankan penanganan di puskesmas. Namun, jika belum dapat tentu dapat kembali puskesmas,” ucapnya.

    [Dexpert.co.id]

    (cha/cha)



    Innovation Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.