Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Pasar Kripto Rentan Bergoyang, Ini Penyebabnya
    Insight News

    Pasar Kripto Rentan Bergoyang, Ini Penyebabnya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa19 Juli 2022Updated:19 Juli 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Krisis kripto membuat banyak perusahaan kripto mengalami berbagai masalah hingga menyebabkan kehancuran di lingkungan perusahaan kripto tersebut.

    Aset digital yang sangat berisiko ini memang tengah menjadi daya tarik banyak orang karena sifatnya yang berbeda dari aset konvensional.

    Di tahun 2021 saja, mata uang kripto kian menggila dengan pecah rekor tertinggi barunya, seperti yang diperlihatkan oleh dua kripto ‘blue chip’ yakni Bitcoin dan Ethereum. Tanpa nilai fundamental, para pengguna menciptakan nilai ‘adikodrati’ mata uang digital, sehingga membuatnya bersinar.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Meski sempat diminati oleh banyak investor, terutama kalangan milienial hingga harganya melesat jauh pada tahun lalu. Tetapi karena aset kripto dinilai berisiko, maka potensi kehancurannya juga cukup besar.

    Setelah pada tahun lalu Bitcoin dan Ethereum mencetak rekor all time high (ATH) dua kali, kini keduanya terjatuh cukup jauh dari harga ATH-nya.

    Bahkan, kapitalisasi keduanya yang sempat mencapai lebih dari US$ 1 triliun (Bitcoin) dan US$ 560 miliar (Ethereum), kini kedunya tidak lebih dari US$ 500 miliar, di mana kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini mencapai US$ 418 miliar, sedangkan Ethereum sebesar US$ 185 miliar.

    Kehadiran aset kripto seolah menampar pejabat pemerintah, bank sentral dan bahkan ekonom wahid tingkat dunia yang sebelumnya menilai mata uang kripto adalah aset yang lahir dari dan untuk spekulasi, dan tidak memiliki nilai fundamental di dalamnya.

    Contohnya saja Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Janet Yellen, yang pernah menyebut bahwa aset ini berbahaya karena sangat tidak efisien dijadikan alat bertransaksi tetapi menjadi ajang spekulasi tingkat tinggi.

    Seruan yang sama juga dikeluarkan bos bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell dengan menyebut Bitcoin dkk itu sebagai “kendaraan spekulasi.”

    Bahkan, ekonom Nouriel Roubini yang merupakan profesor ekonomi di Stern School of Business, New York University, dengan lugas menyebutkan bahwa Bitcoin adalah “gelembung yang diciptakan sendiri.”

    “Secara fundamental, Bitcoin bukanlah mata uang. Itu bukan unit akun, juga bukan alat pembayaran terukur, dan bukan penyimpan nilai (store of value) yang stabil,” kata ekonom berjulukan Dr. Doom tersebut.

    Dalam penelitian ilmiah berjudul “Speculative Bubbles in Bitcoin Markets? An Empirical Investigation into The Fundamental Value of Bitcoin”(2015), peneliti Sheffield University Cheah Eng-Tuck dan John Fry menemukan kesimpulan bahwa nilai fundamental Bitcoin adalah “nol.”

    Innovation Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.