Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ngeri! Ini 3 Serangan Hacker Rusia yang Paling Ditakuti AS Cs
    Insight News

    Ngeri! Ini 3 Serangan Hacker Rusia yang Paling Ditakuti AS Cs

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa25 Maret 2022Updated:26 Maret 2022Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Konflik Rusia dan Ukraina tak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga menyerang dunia maya. Namun, tak hanya Ukraina yang menjadi incaran Rusia, negara-negara lain yang mendukung Ukraina seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa juga diklaim terkena imbas serangan siber.

    Untuk mengantisipasi, Presiden AS Joe Biden telah meminta perusahaan dan organisasi swasta di AS untuk mengunci pintu digital mereka. Otoritas siber Inggris juga mendukung seruan Gedung Putih untuk meningkatkan tindakan pencegahan keamanan siber.

    Walaupun tidak ada bukti yang menyatakan bahwa Rusia merencanakan serangan siber terhadap kedua negara tersebut. Rusia sendiri menyebut bahwa tuduhan AS dan Eropa adalah “Russophobia”.

    Namun, Rusia adalah negara adidaya dunia maya dengan persenjataan alat siber yang memadai. Belum lagi sumber daya hacker canggih yang mampu melakukan serangan siber mengganggu dan berpotensi merusak.

    Para ahli sekarang khawatir bahwa Rusia bisa saja melakukan serangan siber terhadap sekutu Ukraina.

    “Peringatan Biden tampaknya masuk akal, terutama karena Barat memberlakukan lebih banyak sanksi, para hacker terus bergabung, dan aspek kinetik dari invasi tampaknya tidak berjalan sesuai rencana,” kata Jen Ellis, dari perusahaan keamanan siber Rapid7 dikutip dari BBC, Jumat (25/3/2022).

    Berikut adalah peretasan yang paling ditakuti para ahli:

    1. BlackEnergy

    Merupakan serangan infrastruktur kritis yang ditargetkan. Ukraina sering digambarkan sebagai taman bermain peretasan Rusia, yang diklaim sering kali melakukan serangan di sana, bertujuan untuk sekedar menguji teknik dan alat.

    Pada 2015, jaringan listrik Ukraina terganggu oleh serangan siber yang disebut BlackEnergy, menyebabkan pemadaman jangka pendek bagi 80.000 pelanggan perusahaan utilitas di Ukraina barat.

    Hampir tepat setahun kemudian serangan siber lain yang dikenal sebagai Industroyer mengambil alih listrik sekitar seperlima dari Kyiv, Ibu Kota Ukraina, selama sekitar satu jam. Akibat serangan ini, AS dan UE menyalahkan peretas militer Rusia.

    2. NotPetya

    NotPetya dianggap sebagai serangan siber paling mahal dalam sejarah. Bahkan otoritas AS, Inggris dan Eropa menyalahkan sekelompok peretas militer Rusia atas serangan ini.

    Perangkat lunak perusak itu disembunyikan dalam pembaruan perangkat lunak akuntansi yang digunakan di Ukraina, tetapi menyebar ke seluruh dunia, menghancurkan sistem komputer ribuan perusahaan dan menyebabkan kerusakan sekitar US$ 10 miliar (Rp143 triliun).

    Sebulan sebelum peristiwa NotPetya, Korea Utara dituduh menyebabkan gangguan besar dengan serangan serupa. Dijuluki Worm WannaCry, virus ini mengacak data di sekitar 300.000 komputer pada 150 negara, yang menyebabkan layanan Kesehatan Nasional Inggris terpaksa membatalkan sejumlah besar janji temu medis.

    Namun, ilmuwan komputer Prof Alan Woodward, dari University of Surrey, mengatakan serangan semacam itu juga membawa risiko bagi Rusia.

    “Jenis peretasan yang tidak terkendali ini lebih seperti perang biologis, karena sangat sulit untuk menargetkan infrastruktur kritis tertentu di tempat-tempat tertentu. WannaCry dan NotPetya juga melihat korban di Rusia,” ujar Woodward.

    3. Colonial Pipeline

    Pada Mei 2021, keadaan darurat diumumkan di sejumlah negara bagian AS setelah peretas menyebabkan jaringan pipa minyak yang vital ditutup.

    Serangan ini tidak dilakukan oleh peretas pemerintah Rusia, melainkan oleh kelompok ransomware DarkSide yang diduga berbasis di Rusia.

    Perusahaan pipa tersebut mengaku membayar hacker US$ 4,4 juta dalam Bitcoin yang sulit dilacak, untuk mendapatkan kembali sistem komputer dan berjalan.

    Beberapa minggu kemudian pasokan daging terpengaruh ketika ransomware lain bernama REvil menyerang JBS, pengolah daging sapi terbesar di dunia.

    Salah satu ketakutan besar para ahli tentang kemampuan dunia maya Rusia adalah bahwa Kremlin dapat menginstruksikan kelompok kejahatan dunia maya untuk mengkoordinasikan serangan terhadap target AS, demi memaksimalkan gangguan.

    “Manfaat menginstruksikan penjahat dunia maya untuk melakukan serangan ransomware adalah kekacauan umum yang dapat mereka timbulkan. Dalam jumlah yang cukup besar mereka dapat menyebabkan kerusakan ekonomi yang serius,” kata Woodward.

    [Dexpert.co.id]

    (npb/roy)


    High Technology Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.