Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ngeri, Giliran PBB yang Buka-bukaan soal Tanda Kiamat
    Insight News

    Ngeri, Giliran PBB yang Buka-bukaan soal Tanda Kiamat

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa5 April 2023Updated:6 April 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Iklim dan pemanasan global kini menjadi isu yang penting dibahas untuk kelanjutan kehidupan di Bumi.

    Laporan terbaru PBB menyatakan pemanasan global melampaui 1,5 derajat Celcius dalam 10 tahun ke depan. Batas 1,5 derajat Celcius adalah batas bencana pemanasan global yang dampaknya ke Bumi sudah tidak bisa diperbaiki.

    Dalam laporan tersebut, Panel Antar-pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) menyatakan kondisi ini berarti warga Bumi berhadapan dengan dekade paling penting dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, PBB mengimbau agar penduduk dunia segera mengurangi emisi pemanasan global secara drastis.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    IPCC menegaskan bahwa belum terlambat bagi manusia untuk pemanasan Bumi mencapai titik “kiamat”.

    “Kami tahu caranya, punya teknologi, peralatan, dan anggaran – semua yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan iklim yang sudah kita kenali sejak lama,” kata Ketua IPCC Lee Hoesung, dikutip dari AFP, Rabu (5/4/2023). “Satu-satunya yang kurang adalah kemauan politik yang kuat.”

    IPCC menyatakan suhu Bumi akan mencapai titik 1,5 derajat Celcius lebih tinggi dari masa pra-industri pada awal 2030-an.

    Kini, Bumi sudah 1,2 derajat Celcius lebih hangat dari masa pra-industri. Dampak pemanasan global ini sudah sangat dirasakan oleh penduduk Bumi dalam bentuk cuaca ekstrem.

    “Tahun paling hangat yang kita alami saat ini akan menjadi tahun terdingin di satu generasi,” kata ilmuwan dari Imperial College London, Friederike Otto.

    Dampak lewatnya batas 1,5 derajat Celcius adalah sinyal peningkatan laju kepunahan spesies, gagal panen, hingga “tipping point” dari perubahan sistem iklim berupa kematian koral dan mencairnya es di kutub.

    Sekjen PBB Antonio Gueterres menyatakan negara kaya yang tadinya menargetkan karbon netral pada 2050 harus mempercepatnya menjadi 2040 untuk “menjinakkan bom iklim”

    “Manusia berdiri di lapisan es yang tipis, dan es itu mencair dengan sangat cepat,” kata Gueterres.

    Menurut laporan IPCC, jika Bumi hanya bisa menahan laju pemanasan global sebesar 1,8 derajat Celcius, setengah dari manusia di Bumi bakal hidup di tengah panas dan kelembaban ekstrem pada 2100.

    Wilayah yang paling terdampak dari panas dan kelembaban ekstrem tersebut termasuk Asia Tenggara, sebagian dari Brasil, dan Afrika bagian barat.


    Techno for life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.