Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ngeri! 65 Ribu Pegawai Perusahaan Teknologi Di-PHK Tahun Ini
    Insight News

    Ngeri! 65 Ribu Pegawai Perusahaan Teknologi Di-PHK Tahun Ini

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa3 Juli 2022Updated:3 Juli 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan tengah melanda para pelaku perusahaan rintisan startup. Berdasarkan data Trueup, sejauh ini pada tahun 2022, ada 354 perusahaan teknologi, termasuk startup, yang melakukan PHK.

    Jumlah pegawai yang terkena dampak 65.494 orang per Minggu (3/7). PHK paling banyak terjadi pada bulan Juni. “Sejauh ini, ada 354 PHK di perusahaan teknologi,” demikian dikutip dari Trueup, Minggu (3/7/2022).

    Masalah ini bukan hanya terjadi di negara-negara lain, melainkan juga di Indonesia. Di Indonesia, ada Tanihub, LinkAja, Zenius, Pahamify, Lummo, dan Mobile Premier League (MPL) yang sempat melakukan PHK.

    Berikut daftar startup terbaru yang akhirnya melakukan PHK karyawan, dirangkum CNBC Indonesia:

    1. Lummo

    Startup fintech yang sebelumnya dikenal dengan BukuKas juga dilaporkan melakukan PHK. Ekspansi LummoShop juga dikabarkan direm. Layanan tersebut adalah pedagang offline bisa untuk mendirikan toko online.

    Menurut beberapa sumber, 100 karyawan dilaporkan telah diberhentikan. CNBC Indonesia juga telah mencoba menghubungi Lummo meminta konfirmasi terkait laporan ini.

    Lummo kabarnya mengambil tindakan tersebut karena ketidakpastian dalam situasi global yang akhirnya berdampak pada ekosistem startup serta akses yang sulit untuk modal.

    2. iPrice

    iPrice Group melakukan PHK pada 20% stafnya yang terjadi setelah tiga bulan perusahaan mengumumkan investasi US$5 juta dari konglomerat Jepang Itochu Corporation dan KDDI Corporation.

    Co-founder perusahaan e-commerce itu David Chmelaƙ, mengatakan bahwa perusahaannya memerlukan investasi lebih lanjut dengan rencana jangka panjang.

    “Dalam lingkungan ekonomi yang tidak menentu saat ini, penting untuk fokus pada produk inti perusahaan,” ucapnya, dikutip dari Marketing Interactive.

    3. Pahamify

    CEO Syarif Rousyan Fikri mengatakan startup di bidang pendidikan itu perlu beradaptasi di situasi ekonomi saat ini. Selain itu dapat bisa menghadapi ketinggalan belajar yang mengancam siswa-siswi Indonesia.

    “Kami telah memutuskan untuk mengoptimalkan proses bisnis kami yang mengharuskan kami untuk berpisah dengan beberapa karyawan kami,” kata Rousyan.

    “Setelah mengevaluasi bisnis kami, kami telah memutuskan untuk mengoptimalkan proses bisnis kami yang mengharuskan kami untuk berpisah dengan beberapa karyawan kami yang luar biasa”.

    Sayang, Syarif tak menyebut jumlah karyawan yang terdampak keputusan PHK. Namun dia juga menegaskan jumlahnya lebih sedikit dari rumor yang ada.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Taipan, Investor Gojek, hingga Eks Menteri Bicara PHK Startup

    (dem)


    Innovation Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.