Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»NASA Buka-bukaan Soal Kemunculan Tanda Kiamat Baru, Ngeri
    Insight News

    NASA Buka-bukaan Soal Kemunculan Tanda Kiamat Baru, Ngeri

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa15 Agustus 2023Updated:16 Agustus 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Cuaca panas mendidih menyerang berbagai belahan dunia sejak beberapa bulan terakhir. Laporan terbaru dari NASA dan NOAA menunjukkan bahwa Juli 2023 merupakan bulan terpanas sepanjang masa.

    Temperatur Bumi mencatat rekor tertinggi sejak 174 tahun lalu. Bukan cuma itu, selama 4 bulan berturut-turut, temperatur air laut Bumi juga mencatat rekor temperatur tertinggi sepanjang masa, berdasarkan laporan NOAA.

    Indikator lainnya, jumlah es di Antartika pun meleleh dan mencapai rekor terendah sepanjang Juli. Sebagai catatan, volume es di Antartika sudah mulai berkurang sejak lama dan makin intens sepanjang 3 bulan terakhir.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dalam angka, temperatur Bumi pada Juli 2023 lebih panas 2,02 derajat Fahrenheit dibandingkan rata-rata temperatur normal 60,4 derajat Fahrenheit, dikutip dari CBSNews, Selasa (15/8/2023).

    “Juli 2023 menandai Juli ke-47 berturut-turut dan bulan ke-533 berturut-turut dengan suhu nominal di atas rata-rata sepanjang abad ke-20,” kata NOAA.

    Menurut NASA, sejak mulai merekam temperatur Bumi pada 1880 silam, 5 bulan Juli terpanas terjadi sepanjang 5 tahun terakhir. Untuk tahun ini, wilayah yang paling dihantam cuaca panas mendidih adalah Amerika Selatan, Afrika Utara, Amerika Utara, dan Semenanjung Arktik.

    Di wilayah-wilayah tersebut, temperatur pada Juli 2023 mencapai 7,2 derajat Fahrenheit di atas rata-rata. NASA terang-terangan mengatakan fenomena ini merupakan konsekuensi dari aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan lingkungan.

    “Data sains sangat jelas. Kita semua harus bertindak sekarang juga untuk melindungi planet. Ini adalah satu-satunya planet tempat kita hidup,” kata Administrator NASA Bill Nelson.



    Artikel Selanjutnya


    Alasan Baju Baru Astronaut NASA Bukan Warna Putih

    (fab/fab)


    Innovation Techno for life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.