Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Mengkhawatirkan! Hacker Rampok Dana Rp 18,6 T Dalam 2 Tahun
    Insight News

    Mengkhawatirkan! Hacker Rampok Dana Rp 18,6 T Dalam 2 Tahun

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa14 Februari 2022Updated:15 Februari 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    hacker as lumpuhkan internet korut
    Keyboard hacker AS
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Dalam dua tahun terakhir, hacker berhasil mengumpulkan dana hingga US$1,3 miliar atau Rp 18,6 triliun. Uang tersebut merupakan hasil pembayaran tebusan dari korban peretasan.

    Temuan ini berasal dari Chainalysis, yang merefleksikan peningkatan signifikan dalam kejahatan di dunia maya.

    Jumlah itu terdiri dari US$602 juta (Rp 8,6 triliun) pada tahun 2021 dan 2020 sebesar US$692 juta (Rp 9,9 triliun), dikutip dari The Straits Times, Senin (14/2/2022).

    Hasil laporan itu ternyata jauh lebih besar dari yang terjadi pada periode 2018 dan 2019. Saat itu Chainalysis mendeteksi pembayaran tebusan masing-masing US$39 juta (Rp 559,2 miliar) dan US$152 juta (Rp 2,1 triliun).

    Laporan Chainalysis juga mengungkapkan rata-rata pembayaran mencapai US$118 ribu (Rp 1,6 miliar) tahun 2021. Jumlahnya meningkat dari tahun sebelumnya US$88 ribu (Rp 1,2 miliar) dan pada 2019 sebesar US$25 ribu (Rp 358 juta).

    Bagi para korban, biasanya tidak mengungkapkan keamanan mereka berhasil dijebol oleh penjahat dunia maya. Serta juga tidak mengungkapkan telah membayar uang tebusan dalam mata uang kripto untuk mendapatkan akses sistem mereka lagi.

    Menurut para ahli, salah satu alasannya adalah kerahasiaan jika kelompok kriminal yang berbasis di Rusia dan Eropa Timur menargetkan bisnis di Amerika Serikat (AS).

    Beberapa waktu lalu, AS, Inggris dan Australia mengeluarkan peringatan bersama mengenai adanya peningkatan ancaman global dari ransomware. Peretas disebut mengadopsi teknik yang canggih misalnya model bisnis yang diprofesionalkan dan berbagi data mengenai calon korban.

    Sejumlah sektor di AS diketahui jadi sasaran para peretasan. Setelah itu pemerintahan Joe Biden meluncurkan serangkaian insentif meningkatkan pertahanan siber baik untuk pemerintah atau swasta.

    Termasuk saat Gedung Putih mengundang 30 negara pada Oktober lalu. Tujuannya mencari cara mempelambat upaya peretasan.

    [Dexpert.co.id]

    (npb/roy)



    Smart your life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.