Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Mau Punya Anak Pintar? Ini 5 Tips dari Psikolog Harvard
    Inspiring You

    Mau Punya Anak Pintar? Ini 5 Tips dari Psikolog Harvard

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman5 Mei 2023Updated:5 Mei 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Otak anak bukanlah ‘miniatur’ otak orang dewasa, perlu beberapa waktu dan hal agar otak mereka bisa lebih berkembang.

    Hampir segala sesuatu yang dilakukan orang tua dapat berdampak besar bagi anak-anak untuk jangka waktu yang panjang. Maka dari itu, ada sejumlah hal yang bisa diterapkan oleh orang tua agar otak anak bisa berkembang dengan baik, apa saja? Berikut rangkumannya.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    1. Jangan Paksakan Minat Anak

    Ahli saraf dan psikologi dari Harvard University, Lisa Feldman Barrett mengatakan bahwa orang tua tidak boleh memaksakan anak agar menjadi sosok yang mereka diinginkan. Sebaliknya, orang tua harus membiarkan anak-anaknya untuk mencoba berbagai peluang sehingga anak bisa mengenal hal yang diminatinya.

    “Sebagai contoh, orang tua yang menginginkan anaknya untuk menjadi pemain biola umumnya memaksa mereka untuk mengambil kursus. Alih-alih membuat anak berminat, hal itu justru membuat mereka memandang musik sebagai hal yang tidak menyenangkan,” ujar Barrett, dikutip dari CNBC Make It, Kamis (4/5/2023).

    Dengan demikian, orang tua harus melakukan pendekatan ‘seorang tukang kebun’, yakni memahami terlebih dahulu jenis tanaman yang dimiliki, lalu menyediakan tanah yang sesuai agar tanaman tersebut bisa tumbuh dengan baik.

    Analogi tersebut mengartikan bahwa orang tua harus memahami bagaimana minat anak terhadap suatu hal. Setelah itu, orang tua memberikan wadah yang sesuai untuk anak mengembangkan minatnya.

    2. Ajari Anak Beragam Kosakata

    Menurut studi bertajuk Linking Language and Cognition in Infancy, anak-anak yang berusia beberapa bulan masih belum memahami banyak arti kata-kata. Dengan demikian, orang tua harus membantu proses pembangunan landasan sarafnya dengan mengajarkan berbagai kosakata.

    Barrett mengatakan, mengajari anak kata-kata emosional, seperti sedih, bahagia, dan frustrasi sangat bermanfaat untuk dilakukan sejak dini oleh orang tua. Sebab, anak yang mengenali emosinya bisa memudahkan mereka untuk bertindak dengan sesuai di kemudian hari.

    3. Beri Anak Penjelasan

    Barrett menekankan pentingnya memberi penjelasan pada anak mengenai suatu hal. Hal ini bisa membantu otak anak untuk membangun konsep terkait tindakan dan dirinya sendiri.

    Sebagai contoh, ketika seseorang berbohong dalam mengatakan sesuatu, jangan katakan “Dia berbohong,” kepada anak. Sebagai gantinya, jelaskan alasan mengapa seseorang berbohong, lalu lanjutkan dengan diskusi, seperti “Menurutmu, kenapa dia melakukan itu? Bagaimana perasaan orang lain jika tahu bahwa orang itu tersebut?” Dengan demikian, anak akan terlatih untuk berpikir kritis.

    4. Ajak Anak Meniru Orang Tua

    Menurut Barrett, anak-anak umumnya belajar secara alami dengan menonton, bermain, dan meniru orang dewasa. Memerhatikan lingkungan sekitarnya adalah cara yang efisien bagi anak untuk belajar dan memberikan mereka penguasaan diri.

    Maka dari itu, orang tua harus melakukan hal-hal yang cenderung positif agar anak bisa melakukan hal yang serupa. Sebagai permulaan, orang tua bisa memberikan anak sapu mini atau sekop taman untuk mengajak anak membersihkan rumah bersama. Dengan demikian, pentingnya menjaga kebersihan rumah akan tertanam dalam pola pikir mereka seiring dengan orang tua yang sering melakukannya.

    5. Kenalkan Anak ke Lingkungan Sekitar

    Memperkenalkan anak kepada lingkungan sekitar yang beragam sangat penting untuk dilakukan oleh orang tua, terutama ketika mereka masih berusia sebelum balita.

    Menurut penelitian, bayi yang rutin berinteraksi dengan penutur bahasa bisa mempertahankan susunan otak kritis sehingga dapat membantu mereka untuk mempelajari bahasa lain di masa mendatang.

    Selain itu, bayi yang melihat banyak wajah yang beragam membuat mereka dapat menyesuaikan diri untuk lebih membedakan dan mengingat lebih banyak variasi wajah di kemudian hari.



    Artikel Selanjutnya


    Napoli Juara Serie A! Penantian 33 Tahun Berakhir

    (hsy/hsy)


    Ide Sukses Innovation
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.