Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Matahari Segera Bangun dari Tidur, Ini Akibatnya ke Bumi
    Insight News

    Matahari Segera Bangun dari Tidur, Ini Akibatnya ke Bumi

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa22 November 2021Updated:22 November 2021Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Matahari disebut sedang bangun dari tidurnya. Ini terlihat dari badai geomagnetik yang merupakan bagian dari siklus Matahari dan telah menghantam Bumi beberapa waktu lalu.

    Badai geomagnetik itu disebutkan membuat cuaca antariksa dan menimbulkan aurora hingga kerusakan pada satelit.

    Kejadian tersebut berlangsung 3-4 November 2021. Badai berasal dari rangkaian semburan Matahari yang terjadi dalam dua hari sebelumnya.

    Kejadian badai geomagnetik merupakan berasal dari bintik Matahari. Ini merupakan kejadian dalam siklus 11 tahun-an dan badai yang terjadi awal November merupakan awal pada siklus tersebut.

    “Beberapa tahun terakhir aktivitas [Matahari] sangat sedikit, seperti yang terjadi selama fase minimum Matahari, namun sekarang meningkat cukup cepat ke siklus Matahari maksimum berikutnya yang diprediksi terjadi tahun 2025,” kata koordinator program Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa (SWPC) dari Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), Bill Murtagh kepada Space, dikutip Senin (22/11/2021).

    “Kami melihat adanya peningkatan aktivitas yang dikaitkan dengan kenaikan siklus ini. Semacam fase kebangkitan”.

    Murtagh menjelaskan Coronal Mass Ejections (CMEs) adalah awal satu miliar ton gas plasma dengan medan magnet. CME sendiri merupakan rangkaian yang disemburkan Matahari dan menyebabkan badai geomagnetik.

    Hal ini membuat Matahari memuntahkan magnet ke antariksa. Magnet tersebut yang berjalan ke arah Bumi dan di sisi lain planet ini juga punya medan magnet tersebut.

    “Kedua magnet akan bersatu dan itu akan menciptakan badai geomagnetik,” ungkapnya.

    Pada beberapa kasus, CME bisa tumbuh dalam perjalanannya. Space melaporkan badai geomagnetik terjadi awal bulan ini merupakan ledakan yang bergabung saat CME berikutnya bergerak lebih cepat dari sebelumnya.

    “CME pertama bekerja melalui 93 juta mil dan hampir membuka jalan pada CME lain untuk datang di belakangnya. Terkadang kami menggunakan istilah ‘cannibalizing’ yang di depan,” kata Murtagh.

    Badai geomagnetik menyebabkan gangguan pada sejumlah infrastruktur. Seperti jaringan listrik, satelit navigasi dan komunikasi radio pesawat di daerah terpencil.

    Murtagh dan timnya bertugas melakukan pemantauan cuaca antariksa. Ini berguna untuk menjadi peringatan pada operator para infrastruktur apabila ada masalah.

    Pada kejadian baru-baru ini, SWPC memperingatkan seluruh operator jaringan listrik di Amerika Serikat (AS) dan Kanada, meskipun risiko salah itu rendah. Namun menurut Murtagh, para operator ingin mengetahuinya jadi dapat melakukan persiapan.

    [Dexpert.co.id]

    (npb/roy)



    Smart your life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.