Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Masa Depan Google di Ujung Tanduk, Senasib Microsoft Tahun 1999
    Insight News

    Masa Depan Google di Ujung Tanduk, Senasib Microsoft Tahun 1999

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa12 November 2024Updated:12 November 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Belum lama ini, Google berada dalam pusaran masalah anti monopoli. Ternyata nasib serupa pernah dialami raksasa teknologi lain Microsoft pada 1999.

    Saat itu hakim federal memutuskan Microsoft menggunakan kekuatan pasar sistem operasi Windows secara ilegal. Tujuannya sebagai cara mengalahkan browser milik saingannya, Netscape Navigator.

    Hakim Thomas Penfield Jackson yang memimpin kasus Microsoft menemukan perusahaan memaksa pembuat PC menyertakan browser internet Explorer di Windows. Tak sampai di situ, Microsoft mengancam menghukum mereka jika menginstal atau mempromosikan Navigator

    Jackson mengusulkan Microsoft melakukan divestasi bisnis sistem operasi atau bisnis aplikasinya. Padahal keduanya memimpin pasar saat itu.

    Microsoft harus menghadapinya cukup lama. Karena masalah itu baru selesai tahun 2001, yang mengharuskan raksasa perangkat lunak berhenti merugikan pesan dalam kesepakatan PC.

    Agustus lalu, Google terseret masalah serupa. Putusan pengadilan menyebutkan raksasa teknologi itu bersalah karena melakukan monopoli internet lewat mesin pencarian yang dipasang default pada browser dan HP secara global.

    Google disebut membangun penghalang bagi persaingan di industri pencarian internet. Dengan begitu perusahaan bisa mendominasi pasar.

    Kemiripan masalah itu membuat Hakim Amit Mehta menyatakan nasib Google hampir sama dengan Microsoft 25 tahun lalu. Kedua perusahaan itu menggunakan kekuatan layanan default untuk melakukan monopoli.

    “Hasil akhirnya tidak jauh berbeda dengan kesimpulan pengadilan Microsoft mengenai pasar browser,” tulis Hakim Amit Mehta dalam putusan kasus Google setebal 300 halaman, dikutip dari CNBC International.

    Google melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan diri sebagai raja internet. Misalnya menghabiskan miliaran dolar untuk bisa berada secara default di perangkat Apple maupun Samsung.

    “Pengguna bisa menggunakan mesin pencari pesaing Google melalui akses non-default. Namun, jarang orang melakukan itu,” tulis Mehta.

    (dem/dem)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Google Pixel Senasib Dengan Iphone 16, Dilarang Dijual di RI




    Next Article



    Google Menuju Kehancuran, Bakal Bernasib Sama seperti Microsoft 1999



    Hitech for better life Innovation
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.