Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Marak Pernikahan Anak di Pakistan, Penyebabnya Cuaca Ekstrem
    Inspiring You

    Marak Pernikahan Anak di Pakistan, Penyebabnya Cuaca Ekstrem

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman29 Agustus 2024Updated:29 Agustus 2024Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    JakartaDexpert.co.id – Angka pernikahan anak di Pakistan kembali meningkat setelah sempat menurun pada beberapa tahun lalu. Menurut laporan, jumlah pernikahan dini bagi anak-anak perempuan di Pakistan kembali meningkat sejak banjir akibat hujan monsun dan glester mencair pada 2022 lalu yang menewaskan ribuan orang lebih.

    Melansir dari France24, para pekerja hak asasi manusia (HAM) mengungkapkan bahwa pada saat ini, ada banyak anak-anak perempuan terpaksa menikah dengan sosok yang lebih tua akibat ketidakstabilan ekonomi yang dipicu oleh perubahan iklim.

    Umumnya, musim panas yang terjadi pada Juli hingga September sangat menguntungkan jutaan petani dan mampu memberikan “Keluarga akan mencari cara apa pun untuk bertahan hidup. Cara pertama dan paling jelas adalah dengan menikahkan anak perempuan mereka dengan imbalan uang.”dampak ketahanan pangan. Namun, perubahan iklim yang terjadi justru membuat musim hujan menjadi lebih berat dan lama, meningkatkan risiko tanah longsor, banjir, hingga kerusakan tanaman jangka panjang.

    Sejak banjir besar pada 2022 lalu, banyak desa di wilayah pertanian Sindh yang belum pulih seutuhnya. Tak heran, banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya di Pakistan itu telah menenggelamkan sepertiga wilayah negara, membuat jutaan orang mengungsi, dan merusak panen.

    Pendiri LSM Sujag Sansar, Mashooque Birhmani mengungkapkan bahwa kondisi tersebut menciptakan tren baru di tengah masyarakat, yakni pernikahan anak yang disebut sebagai “Pernikahan pengantin musim hujan”.

    “Keluarga akan mencari cara apa pun untuk bertahan hidup. Cara pertama dan paling jelas adalah dengan menikahkan anak perempuan mereka dengan imbalan uang,” jelas Birhmani, dikutip Kamis (29/8/2024).

    Birhmani mengungkapkan bahwa secara spesifik, pernikahan dini pasca banjir 2022 paling banyak terjadi di desa-desa di distrik Dadu. Distrik ini adalah kawasan yang terkena dampak banjir paling parah selama berbulan-bulan hingga berubah bentuk menyerupai danau.

    Sebagai contoh, di desa Khan Mohammad Mallah sebanyak 45 anak perempuan di bawah umur dilaporkan telah menikah sejak musim hujan terakhir. Bahkan, 15 anak di antaranya menikah pada Mei dan Juni 2024 lalu.

    “Sebelum musim hujan 2022, tidak ada kebutuhan untuk menikahkan anak perempuan berusia muda di daerah kami,” kata tetua desa Mai Hajani.

    “Mereka bekerja di ladang, membuat tali untuk tempat tidur kayu. Sedangkan para lelaki sibuk dengan perikanan dan pertanian. Selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan,” sambungnya.

    Seiring dengan pernyataan Birhmani, para orang tua mengaku bahwa mereka terpaksa menikahkan anak-anaknya saat usia yang terlalu dini demi menyelamatkan keluarga dari kemiskinan. Biasanya, keluarga akan mendapatkan imbalan uang jika “merelakan” anaknya untuk dinikahkan.

    Mertua dari salah satu anak perempuan yang dinikahkan mengaku bahwa mereka memberikan 200 ribu rupee Pakistan atau sekitar Rp11 juta kepada orang tua pengantin perempuan saat pernikahan (asumsi kurs Rp55,47/rupee Pakistan). Jumlah tersebut diklaim sudah cukup besar bagi keluarga miskin yang terdampak banjir besar dua tahun lalu itu.

    Pengakuan Pengantin Muda: Terlilit Utang akibat Mahar

    Najma Ali (16) mengaku bahwa saat ini ia terlilit utang akibat menikah saat berusia 14 tahun pada 2022 lalu dan mulai tinggal bersama mertuanya mengikuti tradisi di Pakistan. Utang itu disebut akibat pernikahan dini karena muncul demi membayar mahar.

    “Suami saya memberi orangtua saya 250.000 rupee untuk pernikahan kami. Namun, uang itu adalah pinjaman (dari pihak ketiga) yang tidak dapat ia bayar sekarang,” kata Najma.

    “Saya pikir saya akan membeli lipstik, riasan, pakaian, dan peralatan makan. Nyatanya, sekarang saya kembali ke rumah dengan suami dan bayi karena kami tidak punya apa-apa untuk dimakan,” sambungnya sambil menggendong bayinya yang berusia enam bulan.

    Pernikahan anak merupakan hal umum di beberapa wilayah Pakistan. Bahkan, data pemerintah pada Desember lalu menunjukkan bahwa negara ini mencatatkan jumlah anak perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun tertinggi keenam di dunia.

    Di Pakistan, usia legal untuk menikah bervariasi, yakni dari 16 hingga 18 tahun di berbagai wilayah. Namun, hukum tersebut jarang ditegakkan.

    Menurut UNICEF, peristiwa cuaca ekstrem dapat membahayakan anak perempuan. Sebab, prevalensi pernikahan anak diperkirakan bakal meningkat sebesar 18 persen yang setara dengan terhapusnya kemajuan selama lima tahun.

    (rns/rns)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Dukung Industri Kosmetik Lokal, BPOM Siap Lakukan Ini

    Innovation Inspirasi Sukses
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.