Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Makanan Bisa Ungkap Tanda ‘Kiamat’, Kok Bisa?
    Insight News

    Makanan Bisa Ungkap Tanda ‘Kiamat’, Kok Bisa?

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa25 Juni 2023Updated:25 Juni 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Sepiring makanan ternyata bisa menjadi tanda ‘kiamat’. ‘Kiamat’ yang dimaksud dalam hal ini adalah terkait dengan perubahan iklim. Rupanya, makanan lengkap lauk dan sayur memiliki jejak karbon dan ini sangat membahayakan bagi lingkungan.

    Misalnya pada tiap 3,5 ons daging sapi bisa menghasilkan gas rumah kaca sebanyak 50 kg. Karena ada serangkaian rantai produksi daging dari penggembalaan hingga konsumsi.

    Proses penggembalaan ternyata juga membahayakan lingkungan. PBB mencatat para peternak tidak jarang membuka lahan baru untuk hewan ternak seperti sapi bisa hidup, dan biasanya menyasar hutan tertutup dan lahan hijau lain.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Saat berternak sapi-pun juga melewati proses pembuangan emisi gas metan. Gas ini dihasilkan dari proses pencernaan usus dan perut sapi, memiliki kontribusi 30% pada peningkatan suhu Bumi.

    Penjagalan juga tidak lepas dari jejak karbon. Energi yang dihasilkan selama distribusi dan konsumsi juga menghasilkan jejak karbon.

    Misalkan proses penyimpanan daging di kulkas atau lemari pendingin yang menyumbang 10% emosos karbon global, berdasarkan catatan Birmingham Energy Institute (2016). Kulkas melepaskan senyawa clorofluorocarbon (CFC).

    Ingat jika semuanya proses dari hanya sepotong daging. Belum lagi jika dimasak menjadi olahan makanan seperti rendang, atau sepiring makanan lengkap lauk pauk lainnya.

    Gabungan peneliti dari University of California dalam riset “The environmental Footprint of Global Food Production” (Nature Sustainability, 2022), mengungkapkan jejak karbon pada makanan bersumber dari peternakan, pertanian, agrikultur, dan hewan air.

    World Bank pada 2021 juga pernah mengeluarkan laporan jika kegiatan industri pertanian dan agrikultur berkontribusi pada 19-29% dari total emisi gas rumah kaca secara global. Sistem produksi makanan global juga menyumbang 34% emisi karbon, menurut riset berjudul “Food Systems are Responsible for a Third of Global Anthropogenic GHG Emissions” (2021).



    Artikel Selanjutnya


    Ngeri, Giliran PBB yang Buka-bukaan soal Tanda Kiamat

    (pgr/pgr)


    Mind your business Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.