Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Korut Diam-diam Cuci Uang di Tetangga RI, Begini Modusnya
    Insight News

    Korut Diam-diam Cuci Uang di Tetangga RI, Begini Modusnya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa16 Juli 2024Updated:16 Juli 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Kelompok hacker kawakan asal Korea Utara (Korut), Lazarus, ternyata melakukan pencucian uang dengan memanfaakan firma pembayaran, Huione Pay, di Kamboja.

    Laporan Reuters, dikutip Selasa (16/7/2024), mengatakan Huione Pay yang berbasis di Phnom Penh menerima kripto senilai lebih dari US$150.000 atau setara Rp 2,4 miliar dari dompet digital yang digunakan Lazarus.

    Sebagai informasi, Huione Pay menawarkan perdagangan mata uang asing, pembayaran, serta layanan remitansi.

    Adapun pembayaran kripto dari Lazarus di Huione Pay dilakukan dalam beberapa kali antara Juni 2023 hingga Februari 2024, menurut data blockchain yang didapat Reuters.

    Kripto dikirim ke Huione Pay dari dompet digital anonim, menurut dua analis blockchain. Dompet digital itu terdeteksi digunakan oleh para hacker Lazarus untuk melakukan deposit dana hasil curian dari tiga perushanaan kripto pada Juni dan Juli tahun lalu.

    Mayoritas peretasan yang dilakukan menggunakan modus penyerangan phising, yakni mengelabui korban dengan iming-iming atau urgensi tertentu.

    Pada Agustus 2023 lalu, FBI mengatakan Lazarus telah menjarah US$160 juta (Rp 2,5 triliun) dari beberapa firma kripto. Antara lain CoinsPaid, Atomic Wallet, dan Alphapo.

    Setidaknya, firma-firma tersebut yang paling baru teridentifikasi sebagai korban Lazarus. Pemerintah AS mengatakan duit hasil penipuan Lazarus digunakan untuk membiayai program senjata Pyongyang.

    Bank Nasional Kamboja (NBC) mengatakan ke Reuters, firma pembayaran seperti Huione tak diizinkan melakukan perdagangan mata uang kripto dan aset digital lainnya.

    Pada tahun 2018, dikatakan bahwa larangan tersebut bertujuan untuk menghindari kerugian investasi karena volatilitas kripto, kejahatan dunia maya, dan anonimitas teknologi “yang dapat menyebabkan risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme.”

    Saksikan video di bawah ini:

    Tak Cuma SDM, Ini Tantangan Perkuat Bisnis Fintech Lewat Teknologi AI





    Next Article



    Penipuan WhatsApp dan Email Makin Banyak, Kenali Modus Terbaru 2024



    (fab/fab)

    Insight for you Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.