Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Kisah Dokter Sulianti Saraso yang Jadi Google Doodle Hari Ini
    Insight News

    Kisah Dokter Sulianti Saraso yang Jadi Google Doodle Hari Ini

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa10 Mei 2023Updated:10 Mei 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, CNBC Indonesia – Google hari ini merayakan salah satu tokoh kesehatan Indonesia. Profesor Dokter Sulianto Saraso, yang namanya diabadikan sebagai Rumah Sakit Pusat Infeksi RI, juga diabadikan sebagai Google Doodle.

    Lalu siapakah Sulianto Saroso? Berikut adalah perjalanan dan jasa Sulianto Saroso seperti dikutip oleh Indonesia.go.id.

    Nama Sulianto Saroso sangat terdengar selama penduduk Indonesia berjuang melawan pandemi Covid. Pasalnya, RSPI Suilianto Saroso adalah ‘markas’ tempat perawatan utama dan pengkajian upaya membendung wabah virus Corona di RI.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dalam catatan sejarah kebijakan bidang kesehatan di Indonesia, Profesor Dokter Sulianti Saroso, MPH, PhD., adalah tokoh kesehatan yang punya peran penting dalam dua bidang, yaitu pencegahan dan pengendalian penyakit menular serta program keluarga berencana.

    Meskipun punya gelar dokter, Sulianti Saroso ternyata tidak tertarik praktik sehingga menghabiskan waktunya sebagai peneliti dan perancang kebijakan kesehatan.

    ”Ibu itu hampir-hampir tak pernah menyuntik orang atau menulis resep,” kenang sang putri, Dita Saroso, seperti dikutip dari Indonesia.go.id, Rabu (10/5/2023).

    Sulianti Saroso lahir 10 Mei 1917 di Karangasem, Bali. Ia adalah anak kedua dari keluarga Dokter M. Sulaiman. Setelah lulus dari Geneeskundige Hoge School (GHS) pada 1942, sebutan baru bagi Sekolah Kedokteran STOVIA di Batavia, ia bekerja sebagai dokter di RS Umum Pusat Jakarta yang kini dikenal sebagai RS Cipto Mangunkusumo.

    Ketika ibu kota negara pindah ke Yogyakarta, Sulianti turut hijrah menjadi dokter republiken dan bekerja di RS Bethesda Yogyakarta.

    Di Yogyakarta, Sulianti yang akrab dipanggil sebagai Julie, terjun sebagai dokter perjuangan mengirim obat-obatan ke kantung-kantung gerilyawan republik. Ia juga berperan aktif mencari pengakuan atas kemerdekaan Indonesia di dunia internasional sebagaisalah satu delegasi Konferensi Perempuan se-Asia.

    Saat pasukan NICA menyerbu dan menduduki Yogyakarta pada Desember 1948, Sulianti termasuk ke dalam daftar panjang para pejuang kemerdekaan yang ditahan sehingga harus meringkuk 2 bulan di tahanan Belanda.

    Setelah masa revolus, Sulianti bekerja di Kementerian Kesehatan. Ia meraih beasiswa dari WHO untuk belajar tentang tata kelola kesehatan ibu dan anak di beberapa negara Eropa, terutama Inggris.

    Sulianti kemudian memimpin upaya penggalangan dukungan publik untuk program kesehatan ibu dan anak, yang kemudian dikenal sebagai gerakan keluarga berencana (KB). 

    Bagi Sulianti, hubungan antara kemiskinan, malnutrisi, buruknya kesehatan ibu dan anak, dengan kelahiran yang tak terkontrol adalah fakta yang harus diketahui warga RI. Namun, Kampanye Sulianti itu menimbulkan geger yang dibantah oleh Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Yogyakarta yang melibatkan para dokter serta pimpinan organisasi keagamaan. Sulianti sampai menerima teguran dari Kementerian Kesehatan. 

    Kemudian, Sulianto ditarik ke Jakarta dan diberikan berbagai posisi di Kemenkes. Berbagai posisi dirjen pernah dijabat, termasuk Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan, dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M) pada 1967. Ia juga merangkap sebagai Direktur Lembaga Riset Kesehatan Nasional (LRKN).

    Dalam posisi itu, Profesor Sulianti memberikan perhatian besar pada Klinik Karantina di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Klinik itu telah dikembangkannya menjadi RS penyakit menular sekaligus untuk keperluan riset penyakit menular.

    Tidak cukup dengan observasi di RS karantina di Tanjung Priok, Dokter Sulianti pun membangun pos-pos kesehatan masyarakat di berbagai lokasi. Dari observasi lapangan itu lantas lahir rekomendasi-rekomendasi. Di antaranya, vaksinasi massal, vaksinasi reguler (untuk anak usia dini), pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, produksi cairan “Oralit” untuk korban dehidrasi akibat diare, ditambah perencanaan dan pengendalian kehamilan.

    Menjelang masa pensiun di pertengahan 1970-an, Profesor Sulianti aktif sebagai konsultan untuk lembaga internasional WHO dan Unicef. 


    Insight for you Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.