Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Kiamat e-Commerce, Rakyat Beralih Belanja di WhatsApp
    Insight News

    Kiamat e-Commerce, Rakyat Beralih Belanja di WhatsApp

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa29 Juni 2023Updated:29 Juni 2023Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Perkembangan industri e-commerce sepertinya sudah mulai ditinggalkan sebagai saluran penjualan utama. Bahkan tidak sedikit brand meninggalkan e-commerce dan membangun situs penjualan mereka sendiri.

    Terbaru, CEO Meta Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa anak usahanya, WhatsApp Business, kini telah memiliki 200 juta pengguna aktif. Angka itu naik 4 kali lipat dibandingkan 3 tahun lalu.

    WhatsApp Business merupakan fitur di dalam aplikasi pesan singkat WhatsApp yang dirancang khusus untuk UMKM. Tujuannya mempermudah transaksi jual-beli online antara pembeli dan penjual.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Meta agaknya mulai mengarahkan pengembangan WhatsApp sebagai platform bisnis untuk meraup lebih banyak pendapatan.

    Hal ini menyusul ketidakpastian ekonomi yang cukup berdampak pada bisnis iklan ekosistem Meta secara keseluruhan, dikutip dari Reuters, Rabu (28/6/2023).

    Tak tanggung-tanggung, Meta pun meluncurkan 2 fitur baru untuk WhatsApp Business yang makin mempermudah pelaku UMKM. Di RI, dua fitur ini sudah bisa digunakan segelintir pelaku UMKM dalam masa uji coba.

    Pertama, sinkronisasi iklan dari WhatsApp ke Facebook atau Instagram. Pengguna hanya perlu akun WhatsApp Business dan tidak perlu berpindah aplikasi untuk membuat iklan jualannya.

    Saat pengguna Facebook dan Instagram mengklik iklan, maka akan langsung diarahkan langsung ke WhatsApp penjual. Mereka bisa mengajukan pertanyaan, menelusuri produk, dan melakukan pembelian.

    Fitur ini akan tersedia secara bertahap ke pengguna WhatsApp Business. Saat ini sudah ada UMKM yang punya akses iklan ke platform keluarga Meta tersebut.

    Kedua, pesan berbayar. Fitur ini memungkinkan penjual bisa mengirimkan pesan yang dipersonalisasi ke pelanggan. Pesan bakal berisi nama pelanggan, termasuk juga jadwal pengiriman pesan.

    “Kami berharap fitur-fitur ini mampu mendukung UMKM lebih maju lagi. Teknologi yang sudah ada dan yang tidak berbayar akan menarik lebih banyak pengguna sekaligus mempertahankan pengguna lama,” kata Country Director Meta Indonesia, Pieter Lydian, saat ditemui di Jakarta, Selasa (27/6) kemarin.

    Strategi WhatsApp yang makin kencang menggarap fitur Business agaknya sejalan dengan TikTok dengan fitur Shop. Dua layanan yang lahir sebagai aplikasi pesan singkat dan media sosial ini punya keunggulan di sektor audiens.

    WhatsApp dan TikTok sama-sama menjadi platform yang sering diakses sehari-hari oleh warganet. WhatsApp memiliki 2 miliar pengguna aktif bulanan secara global, sementara TikTok digunakan 1,6 miliar orang setiap bulannya di seluruh dunia.

    Ketergantungan warganet ‘nongkrong’ di kedua platform tersebut membuat transaksi jual-beli online pun lebih mudah dilakukan di dalam aplikasi.

    Hal ini tentu bisa jadi ancaman untuk pemain e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada. Lahir sejak awal sebagai platform jual-beli, aplikasi e-commerce harus memutar otak untuk membuat pengguna tak beralih belanja ke TikTok Shop dan WhatsApp Business.

    Sebagai catatan, GMV TikTok Shop di Indonesia sepanjang tahun lalu senilai US$ 2,5 miliar, menurut laporan Financial Times. Angka tersebut menyumbang mayoritas dari total GMV di Asia Tenggara senilai US$ 4,4 miliar.

    Tahun ini, TikTok Shop mematok pertumbuhan di RI lebih dari 2 kali lipat atau sekitar US$ 5 miliar (Rp 75 triliun. Hal tersebut diketahui dari dua sumber dalam yang familiar dengan isu tersebut.

    Tak heran jika TikTok secara spesifik mengeker Indonesia. Firma riset Insider Intelligence menyebut pengguna aktif TikTok di Asia Tenggara mencapai 135 juta hingga Q1 2023. Indonesia menjadi negara yang berkontribusi paling besar dengan basis pengguna 113 juta.

    Potensi TikTok Shop tak bisa diremehkan pemain e-commerce lama seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada. Padahal, TikTok Shop baru hadir di Asia Tenggara pada 2021 lalu.

    Menurut survei dari firma riset Cube Asia, pengeluaran pengguna di TikTok Shop membuat mereka mengurangi pengeluaran di Shopee dan Lazada.

    Di Indonesia, Thailand, dan Filipina, pengeluaran pengguna di Shopee turun 51% karena alokasinya pindah ke TikTok Shop. Sementara di Lazada turun 45% dan di gerai offline anjlok 38%.

    Namun, GMV Shopee memang masih jauh di atas TikTok Shop. Sepanjang 2022, GMV Shopee di Asia Tenggara mencapai US$ 73,5 miliar. Sementara itu, Lazada meraup GMV US$ 21 miliar.



    Artikel Selanjutnya


    Cara Daftar WhatsApp Pakai Nomor Sudah Mati Tanpa Verifikasi

    (haa/haa)


    Innovation Insight for you
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.