Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ketat Lindungi Data Warga, Eropa Punya Cloud Lokal
    Insight News

    Ketat Lindungi Data Warga, Eropa Punya Cloud Lokal

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa25 Oktober 2023Updated:25 Oktober 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, CNBC Indonesia – Amazon Web Services mengumumkan rencana peluncuran cloud khusus pengguna di Eropa. Data yang disimpan dan dikelola di cloud tersebut tidak akan dipindahkan ke luar wilayah Uni Eropa.

    Uni Eropa memiliki regulasi soal data, keamanan siber, dan algoritma yang lebih ketat dibanding wilayah ekonomi lainnya.

    Selain server yang berlokasi di wilayah Uni Eropa, data yang disimpan di cloud khusus Eropa hanya bisa dikelola oleh pegawai AWS penduduk Uni Eropa.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Otoritas Eropa tahun lalu mulai menggelar penyelidikan ke infrastruktur cloud untuk publik untuk memastikan pelaksanaan regulasi keamanan dan privasi di Uni Eropa yang super ketat.

    Regulasi Uni Eropa adalah respons terhadap perpindahan data dari server milik sendiri ke cloud. Kini, makin banyak perusahaan dan lembaga pemerintah yang memilih “menyewa” jasa penyimpanan dan pengelolaan data yang ditawarkan oleh perusahaan teknologi dalam bentuk platform cloud daripada membangun infrastruktur sendiri.

    AWS akan meluncurkan server pertama mereka di Jerman yang bisa diakses oleh pengguna di Eropa. Selain AWS, Microsoft dan Oracle juga telah meluncurkan layanan cloud khusus pengguna pemerintah Eropa.

    Cloud di Indonesia

    Layanan cloud juga  berkembang pesat di Indonesia. Bahkan, mengutip data IDC, pertumbuhannya bisa mencapai US$933 juta atau Rp 14,6 triliun tahun ini.

    “Cloud tetap akan meningkat. Dari angkanya itu kalau untuk Indonesia dari IDC US$933 juta. Kalau growth [setiap tahunnya] 20%-30%, tergantung situasi,” kata Direktur Channels and Strategic Partnerships Google Cloud South East Asia, Megawaty Khie, Rabu (11/10/2023).

    Saat ditanya soal kepercayaan orang menggunakan cloud, dia meyakini sudah cukup tinggi. Sebab sudah banyak masyarakat yang malas membeli dan menggunakan hardware jadi akhirnya beralih ke cloud.

    “Sangat tinggi sekarang ini, yang pertama orang malas beli hardware lagi. Mereka dulu beli hardware harus pesan. Harus tunggu dua bulan dan positioning,” jelasnya. “Lebih gampang implementasi. Kamu ngomong sama saya [menyediakan layanan cloud] sorenya udah ada. Adaptasi meningkat.”

    Selain itu, banyak orang sudah tidak khawatir lagi menggunakan cloud. Namun Megawaty mencatat ada satu kendala untuk implementasi cloud di dalam negeri yakni terkait izin yang diberikan dari pemerintah. Misalnya perbankan mau menggunakan cloud, harus mendapatkan izin dulu dari lembaga terkait.

    “Saya lihat kendalanya dari pemerintah harus lebih mendukung. Kalau si customer kita, terutama perbankan kalau mau coba ke cloud harus izin, minta izin dari BI dari OJK. Biasanya izin cukup agak lama,” kata dia.



    Artikel Selanjutnya


    RI Ketinggalan, Teknologi Ini Sudah Dipakai di Mana-Mana

    (dem/dem)


    Innovation Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.