Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Jokowi Resmikan Bursa Karbon, Luhut Incar Duit Jeff Bezos
    Insight News

    Jokowi Resmikan Bursa Karbon, Luhut Incar Duit Jeff Bezos

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa26 September 2023Updated:27 September 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Bursa Karbon Indonesia resmi diluncurkan pada hari ini, Selasa (26/9/2023) di Gedung BEI, Jakarta. Presiden Joko Widodo optimis Bursa Karbon Indonesia akan menjadi langkah konkret untuk memerangi perubahan iklim yang kian terasa.

    Secara sederhana, perdagangan karbon atau bursa karbon ini adalah jual beli kredit atas pengeluaran karbon dioksida atau gas rumah kaca. Perusahaan yang mampu menekan emisi dapat menjual kredit karbon ke perusahaan yang melampaui batas emisi.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dengan dibentuknya Bursa Karbon Indonesia, Luhut mengatakan Indonesia punya potensi untuk masuk ke perdagangan karbon luar negeri lewat pasar sukarela atau Voluntary Carbon Market (VCM).

    VCM merupakan tempat perorangan, badan usaha, atau aktor lainnya untuk melakukan jual-beli kredit karbon di luar mekanisme pasar karbon yang diwajibkan pemerintah.

    “[VCM] memiliki potensi besar seperti pihak Amazon Web Services, khusus indonesia telah berkomitmen untuk meluncurkan investasi termasuk pembelian karbon VCM sebesar US$ 5 miliar,” kata Luhut, di acara peluncuran Bursa Karbon Indonesia.

    Lebih lanjut, Luhut mengatakan ada beberapa lembaga non-profit yang membentuk program akselerator transisi energi. Misalnya saja The Rockefeller Foundation dan The Bezos Earth Fund.

    “Mereka menyediakan US$ 4,5 miliar khusus untuk mendukung negara berkembang. Ini bisa memonetisasi kredit karbon dalam bentuk pendanaan karbon,” Luhut menuturkan.

    VCM merupakan konsep baru yang masih berkembang dalam pengaturan karbon internasional. Luhut mengatakan neberapa negara yang punya sumber daya seperti China, Malaysia, Brasil, sudah membuka VCM ini.

    Menurut Luhut, pengaturan penyelenggaraan karbon luar negeri yang memindahkan status hak atas karbon harus dicatat dalam SRN PPI, yakni sistem pengelolaan, penyediaan data, dan informasi berbasis web tentang aksi dan sumber daya untuk Mitigasi Perubahan Iklim, Adaptasi Perubahan Iklim, dan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) di Indonesia.

    “Indonesia harus bisa memanfaatkan kesempatan yang ada karena tidak hanya mengandalkan APBN. Kami mau menggarisbawahi bahwa kita akan bekerja sama dengan negara maju,” dia memungkasi.


    Artikel Selanjutnya


    Eks Karyawan Ungkap Sifat Mengerikan Elon Musk, Takut!

    (fab/fab)


    Techno for life Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.