Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»JD.com Dikabarkan Mau Cabut dari e-Commerce JD.ID, Ada Apa?
    Insight News

    JD.com Dikabarkan Mau Cabut dari e-Commerce JD.ID, Ada Apa?

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa30 November 2022Updated:30 November 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – JD.com dilaporkan akan keluar dari pasar Indonesia. Raksasa e-commerce itu disebut mencari investor untuk mengambil saham di JD.id. 

    Sebagai informasi, JD.id merupakan perusahaan patungan JD.com dengan firma ekuitas asal Singapura, Provident Capital Partners tahun 2015 lalu.

    Selain Indonesia, JD.com juga disebutkan akan keluar dari JD Central Thailand. Usaha patungan itu dilakukan perusahaan dengan konglomerat pengembang ritel dan properti asal Bangkok, Central Group.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Menurut sumber, JD.com berusaha mengurangi kerugian di dua negara. Di saat bersamaan akan memperkuat operasional pasar dalam negerinya, China, dikutip dari SCMP, Rabu (30/11/2022).

    Sumber tersebut mengatakan JD menghadapi tantangan pada pertumbuhan penjualan di Indonesia dan Thailand. Fenomena tersebut telah terjadi selama beberapa tahun terakhir.

    Baik JD.com, Provident Capital dan Central Group tidak segera menanggapi permintaan untuk mengomentari laporan tersebut.

    SCMP mencatat penarikan diri dari Indonesia dan Thailand menjadi pertanda pertumbuhan yang melambat di industri e-commerce pada dua negara. Menurut laman tersebut, ini diakibatkan adanya peningkatan biaya hidup.

    Pendiri dan kepala eksekutif Momentum Works, Jianggan Li mengatakan konsumen Asia Tenggara tengah berhemat. Dolar AS yang menguat membuat mata uang lokal menjadi rugi dan pada akhirnya menyebabkan kenaikan harga produk impor dan bahan bakar.

    Seorang karyawan mengatakan masalah ekonomi tersebut mendorong perusahaan merumahkan lebih dari 200 orang, menekan biaya, serta membekukan perekrutan.

    Karyawan itu menambahkan jika penjualan stagnan di e-commerce terjadi karena beberapa alasan. Salah satunya adalah kampanye tidak efisien selama pandemi.

    Selain itu, dia menilai pendekatan yang tidak tepat pada lokal juga jadi alasan lainnya. Menurut karyawan tersebut, banyak keputusan berdasarkan praktik pasar China, yang sayangnya tidak selalu berjalan di lokal.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Alasan Amazon Habiskan Miliaran Dolar Caplok Perusahaan Lain

    (npb/roy)


    High Technology Techno for life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.