Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Investasi ke Startup RI Anjlok Walau Duit Investor Berlimpah
    Insight News

    Investasi ke Startup RI Anjlok Walau Duit Investor Berlimpah

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa8 November 2023Updated:8 November 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Pendanaan ke startup RI anjlok sepanjang 2023 meskipun para investor, termasuk modal ventura, masih punya dana berlimpah untuk kucurkan.

    Perusahaan startup dinilai masih membutuhkan rencana profitabilitas yang jelas dan harus membuktikan kepada investor bahwa mereka memiliki strategi untuk exit.

    Hal ini diungkap dalam laporan e-Conomy Sea 2023 yang dirilis oleh Google, Temasek dan Bain&Company.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Partner and Head of Vector in Southeast Asia Bain & Company Aadarsh Baijal, mengatakan, pendanaan privat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mencapai level terendah dalam enam tahun terakhir.

    Ini mengikuti tren global yang menunjukkan peningkatan biaya modal dan tantangan di sepanjang siklus pendanaan.

    Di Indonesia pendanaan privat turun sebesar 87 persen pada paruh pertama tahun 2023 dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022. Sementara, penurunan paling kecil terjadi pada pendanaan tahap awal.

    “Ada beberapa tantangan yang dihadapi antara lain koreksi valuasi secara umum setelah naik selama tahun 2021,” kata Baijal saat Media Briefing e-Conomy SEA 2023 Report, di Kantor Google Indonesia, di Jakarta, Selasa (7/11/2023). “Ketidakpastian profitabilitas di beberapa perusahaan dan kurang kondusifnya situasi pasar modal, dapat menyulitkan investor untuk melakukan exit,” imbuhnya.

    Walaupun investor makin selektif dalam menanamkan modal, cadangan dana (dry powder) di Asia Tenggara masih aman menjadi US$15,7 miliar pada akhir tahun 2022, dari US$12,4 miliar pada 2021.

    Hal ini mengindikasikan masih tersedianya “bahan bakar” yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan lebih lanjut ekonomi digital di kawasan ini.

    Layanan keuangan digital masih menjadi sektor investasi utama karena potensi monetisasinya yang tinggi. Sektor-sektor baru juga mengalami kenaikan investasi, yang menandakan bahwa investor ingin melakukan diversifikasi portofolio.


    Artikel Selanjutnya


    Startup Rp 330 Triliun Ditinggal Investor, Muak Dibohongi

    (dem/dem)


    Hitech for better life Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.