Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Hujan di Pagi Buta Jakarta Fenomena Tak Biasa, Ini Penjelasan BRIN
    Insight News

    Hujan di Pagi Buta Jakarta Fenomena Tak Biasa, Ini Penjelasan BRIN

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa2 Februari 2024Updated:2 Februari 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Beberapa hari terakhir wilayah Jabodetabek, terutama Jakarta, diguyur hujan lebat sejak pagi buta. Apa penyebabnya?

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin menjelaskan, siklus normal hujan di daratan terjadi sore hingga malam usai panas matahari maksimum yang membentuk awan-awan konvektif. Artinya, hujan yang terjadi dini hari adalah sesuatu yang tidak biasa.

    “Jadi kalau ada hujan dini hari atau dimulai dari tengah malam berarti dia tidak memenuhi teori konvensional atau teori umum dari siklus diurnal. Umumnya [dini hari] hujan itu masih di tengah laut, nah kok sudah di darat?,” ujar Erma dalam diskusi tentang cuaca ekstrem di Gedung BJ. Habibie, Jakarta, dikutip dari Detikcom, Jumat (2/2/2024).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Ia menjelaskan, hal ini disebabkan fenomena seruak dingin dari daratan Siberia. Fenomena ini meniup awan-awan hujan dari tengah laut ke daratan.

    “Seruak dingin itu kalau sampai ke wilayah kita menjadi angin utara yang sangat kuat sampai melintasi ekuator. Itu yang memperparah jadi hujan. Yang tadinya masih di laut digeser oleh angin dari utara. Pergeserannya itu menjalar, namanya propagasi. Rambatannya seperti membangun sebuah jembatan hujan dari laut ke darat itu,” jelasnya.

    Selain kajian proyeksi perubahan iklim, Erma menyebutkan, kajian klimatologis terkini mengenai karakteristik hujan tahunan dan musiman di Indonesia juga diperlukan.

    Hal ini sebagai bentuk validasi agar indikasi perubahan iklim yang terjadi secara aktual saat ini di Indonesia dapat dipetakan dengan lebih baik, khususnya dalam hal perubahan pada pola musim dan cuaca ekstrem.

    Erma mengatakan kajian mengenai indikasi perubahan hujan diurnal (siklus proses yang berulang setiap hari karena rotasi Bumi) menjadi kunci penting memahami pola cuaca ekstrem sebagai dampak dari pemanasan global.

    Pada dasarnya, pola hujan diurnal mengikuti pola umum hujan di darat yang dipengaruhi oleh angin darat-laut dan gelombang gravitasi, sehingga fase kejadian hujan adalah sore hari di atas darat dan pagi hari di atas laut.

    Namun demikian, lanjut Erma, terdapat variasi fase hujan diurnal sehingga hujan maksimum di darat terjadi pada dini hari dengan frekuensi yang signifikan (~20%) untuk wilayah di utara Jawa bagian barat termasuk wilayah Jakarta.

    Hujan dini hari yang turun dengan intensitas tinggi atau ekstrem (P99th) patut diwaspadai, karena telah dibuktikan merupakan penyebab banjir besar di Jakarta pada 2007, 2013, 2014, 2020.

    “Hasil kajian kami menunjukkan karakteristik utama hujan dini hari yang terjadi di utara Jawa bagian barat,” papar Erma.

    Pertama, hujan mengalami propagasi yang kuat dari laut menuju darat maupun sebaliknya. Kedua, keacakan dalam hal fase terjadinya hujan pada rentang waktu dini hari [01.00-04.00 WIB]. Ketiga, hujan dini hari memiliki keterkaitan yang kuat dengan hujan ekstrem yang memicu banjir besar di Jakarta,” papar Erma.

    Dalam kesempatan ini, Erma juga menjelaskan bahwa menghangatnya suhu permukaan laut akibat pemanasan global bisa memperparah kondisi cuaca karena menghasilkan kelembaban yang sangat tinggi.

    “Dengan kelembaban yang sangat tinggi, hujan di laut tidak habis-habis, dan hujan tersebut kemudian ditransfer ke darat oleh angin,” jelas Erma.

    Menurutnya, pemahaman yang lebih baik mengenai cuaca ekstrem sangat berguna untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca ekstrem di wilayah Indonesia.

    Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap bencana hidrometeorologi dan perubahan iklim.




    High Technology Techno for life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.